Selasa, 21 Januari 2020

Ambisi Besar Bocah Peselancar

: :

Program Perbaikan untuk Jalan Desa

Beberapa ruas jalan desa/kampung di wilayah Pesanggaran kini nampak berbeda dari tahun sebelumnya. Jalan-jalan tersebut kini terlihat lebih rapi dan nyaman dilalui.

Era Edmodo Telah Datang di Kandangan

Majunya teknologi sekarang ini membuat masyarakat memasuki era digital. Sejumlah pekerjaan yang dulunya harus dikerjakan secara manual, sekarang bisa dikerjakan melalui media digital, termasuk dalam lingkup pendidikan.

Asa Si Pesepak Bola Muda

Perasaan bahagia masih menggelayuti Gesang Hidayatullah setelah memenangi tiket AIA 100 Talents Go to Phuket. Di Thailand, Gesang digembleng oleh tim Global Development Coach Tottenham Hotspur selama seminggu tentang sepak bola.

Sumberagung – Ada tekad besar yang tergambar di paras Candra Aji Wahyu Kurnia Ananda. Apalagi jika ditanya tentang cita-citanya sebagai peselancar kelas dunia. Hanya saja, ia tidak menyampaikan dengan kata-kata tetapi dengan isyarat tangan. Bocah berusia dua belas tahun yang tinggal di Pulau Merah, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran ini tunarungu dan tunawicara.

“Dulu anak ini normal, tapi setelah jatuh dari gendongan ibunya jadi tidak bisa omong dan mendengar. Tapi, kadang-kadang ia merespon ketika dipanggil,” kata Yatimah, nenek Candra, yang merawatnya setelah kedua orangtua anak itu berpisah.

Candra sudah sudah bersahabat dengan ombak sejak usia tiga tahun. Kebiasaannya main di pantai membuat kulitnya sawo ekstramatang. Awalnya neneknya melarang karena cemas dan tidak tega, tapi Candra diam-diam tetap pergi ke laut.

Bocah pemalu ini mulai berlatih serius berselancar pada usia 5 tahun tahun tanpa bimbingan siapapun. “Candra itu selain baik sama teman juga sangat bersemangat, kalau latihan selancar tidak kenal waktu dan tidak pernah lelah. Meskipun ada kekurangan, dia tidak minder,” kata Heri Setiawan, teman dekat Candra.

Sebetulnya, Candra sempat berhenti berselancar. Saat ia kelas 1 SD, orangtuanya membawanya ke Papua. Ia baru berselancar lagi setelah kembali ke Pulau Merah dua tahun berikutnya.

Candra tak hanya berselancar di sekitar tempat tinggalnya, tapi juga berkelana menaklukkan ombak di  Cilacap, Pacitan, sampai Dewata Bali. salah satu lomba yang ia ikuti adalah Gandrung Surf Competition 2019 yang di gelar di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi pada Minggu, 6 Juli 2019.

Candra Peselancar Muda Pulau Merah
Aksi Candra saat menaklukkan ombak Pulau Merah.

Kegigihannya dan keseriusannya akhirnya berbuah manis dengan gelar juara keempat dalam ajang tersebut. Tak hanya itu, ia juga dinobatkan sebagai peselancar lokal terbaik. 

Menurut Heri, Candra merupakan peselancar yang sangat baik. Dalam usianya yang masih sangat muda, Candra sudah berani berkompetisi dalam ajang internasional Surfing di Bali pada bulan Mei 2018 lalu. Meskipun gugur pada semifinal, prestasinya tetap membanggakan karena ajang ini bergengsi.

Candra membuktikan tanpa bicara—dalam artian sebenarnya—bahwa kekurangan tidak menjadi masalah untuk terus menggapai cita-cita. Pantang menyerah meskipun jatuh berkali-kali—dalam artian sebenarnya juga. Ia tetap optimis dan berusaha lebih baik lagi. (tiw)

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Program Perbaikan untuk Jalan Desa

Beberapa ruas jalan desa/kampung di wilayah Pesanggaran kini nampak berbeda dari tahun sebelumnya. Jalan-jalan tersebut kini terlihat lebih rapi dan nyaman dilalui.

Era Edmodo Telah Datang di Kandangan

Majunya teknologi sekarang ini membuat masyarakat memasuki era digital. Sejumlah pekerjaan yang dulunya harus dikerjakan secara manual, sekarang bisa dikerjakan melalui media digital, termasuk dalam lingkup pendidikan.

Asa Si Pesepak Bola Muda

Perasaan bahagia masih menggelayuti Gesang Hidayatullah setelah memenangi tiket AIA 100 Talents Go to Phuket. Di Thailand, Gesang digembleng oleh tim Global Development Coach Tottenham Hotspur selama seminggu tentang sepak bola.

Minhajussalikin dan Dakwah Islam di Pesanggaran

Membincang soal dakwah Islam di Pesanggaran tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh seperti Kiai Khoirun dan KH. Fathul Mubin Amirullah. Kiai Khoirun adalah pendiri Masjid Jami’ Roudlotul Huda, sedangkan Kiai Mubin adalah pengasuh Pondok Pesantren (PP) Minhajussalikin.

Gula Semut yang Imut

Ada gula ada semut, semua orang kenal ungkapan ini. Tapi, tahukah Anda tentang gula semut? Produk dengan nama yang lucu ini memang belum terlalu populer.

Baca Juga: