Selasa, 29 Sep 2026
MENU

Masyarakat Pancer Gelar Petik Laut, Doakan Kesejahteraan Nelayan

Sedulur, Pesanggaran - Masyarakat pesisir Pancer, Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi menggelar upacara petik laut di area tempat pelelangan ikan (TPI), Minggu, 27 September 2028. 

Untuk mewujudkan upacara tahunan tersebut, masyarakat Pancer telah menyiapkannya selama kurang lebih setahun. Mereka juga mengundang sponsor dari luar Pancer. Salah satu sponsor tersebut adalah perusahaan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI).

Momen yang terasa sakral dalam acara tersebut adalah pemasangan pancing emas pada bibir kambing sebagai bagian dari perlengkapan sajian. Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh Camat Pesanggaran Didik Eko Wahyudi, perwakilan Dinas Pariwisata Banyuwangi Hartono Arsyil, dan Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin.

Selain itu, pimpinan dan perwakilan instansi pemerintah di Kecamatan Pesanggaran juga terlihat hadir, yaitu Kapolsek Pesanggaran AKP Agus Hari Widodo, S.H., Danramil Pesanggaran Kapten Arm Edy Tri Santoso, dan Danposal Pancer Lettu Laut (P) Jefri.


Baca Lainnya :

Danden TNI AU Rajegwesi Peltu Salikul Imam dan perwakilan Puslatpurmar 7 Lampon Peltu Mar Hartawan juga terlihat hadir. Sementara itu, PT BSI diwakili oleh Budi Prasetya dari Departemen Compliance.

Menurut Ketua Panitia Petik Laut Pancer, H. Jamil, rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari (26-28 September 2026). Selain upacara larung sesaji, panitia juga menyuguhkan aneka hiburan bagi masyarakat.

“Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Jamil.

Camat Pesanggaran Didik Eko Wahyudi mengatakan, petik laut bermakna lebih dari sekadar kegiatan budaya, tetapi juga momentum bagi masyarakat untuk berdoa.

“Tradisi ini juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa agar kehidupan nelayan senantiasa diberi keselamatan, kelancaran saat melaut, serta hasil tangkapan yang mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin mengatakan, petik laut adalah peristiwa sakral. Setiap tahapan memiliki makna yang berkaitan dengan rasa syukur dan doa masyarakat.

“Sebelum prosesi larung sesaji ke laut, kegiatan diawali dengan pemberian santunan kepada anak yatim,” katanya.

Ia berharap petik laut menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus mendoakan keselamatan para nelayan.

“Kami berharap melalui petik laut ini, seluruh warga, khususnya para nelayan, senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan dan kelancaran saat melakukan aktivitas penangkapan ikan di tengah laut,” ucapnya.

Vivin menambahkan, masyarakat harus mempertahankan tradisi petik laut sebagai kearifan lokal yang turun-temurun. Tradisi tersebut adalah warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda agar tetap lestari.

Masih di tempat yang sama, perwakilan Dinas Pariwisata Banyuwangi Hartono Arsyil mengatakan, petik laut merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat pesisir Banyuwangi. 

“Kami hadir mewakili Bupati Banyuwangi untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat yang terus menjaga tradisi petik laut ini. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat nelayan,” kata Hartono.

Petik laut juga bernilai wisata budaya yang dapat dikembangkan. Pelestarian tradisi mesti melibatkan masyarakat sebagai pemilik kebudayaan tersebut.

Dukungan sektor swasta seperti PT BSI juga dibutuhkan agar tradisi ini tetap berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.

“Harapannya, tradisi ini tetap lestari, masyarakat nelayan diberikan keselamatan, kelancaran dalam mencari rezeki, serta hasil tangkapan yang melimpah. Di sisi lain, potensi budaya seperti Petik Laut juga dapat menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” jelas Hartono. (gil)