Senin, 17 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Menjadi Ibu untuk Anak-anak dan Lingkungan

Hidup bahagia selamanya merupakan harapan kedua mempelai saat melaksanakan pernikahan. Menjadi ibu dan ayah untuk anak-anaknya. Tidak ada yang mengharapkan perselisihan selama menjalani kehidupan berumah tangga. Apalagi sampai berakhir perceraian.

Perceraian bisa menjadi sebuah pilihan. Namun, sebisa mungkin harus dihindari. Beda cerita bagi pasangan yang sudah tidak bahagia dan merasa tidak sanggup lagi menjalani hubungan dalam rumah tangga, bisa jadi bercerai merupakan keputusan terbaik.

Begitulah pendapat Hadisah, orang tua tunggal (single parent) yang tinggal di Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. “Menurut saya, [berpisah] akan lebih baik dibandingkan tetap bersatu mempertahankan pernikahan yang menyakitkan,” kata Hadisah saat ditemui di rumahnya.

Hadisah bersama teman-temannya anggota Fatser.

Tujuh tahun lalu, Hadisah pernah mengalami dilema itu sampai akhirnya memutuskan untuk bercerai pada 2013. Sejak saat itu, dia harus melalui masa-masa yang sulit: memulai hidup sendiri sambil membesarkan dua anak hasil pernikahannya.


Baca Lainnya :

Lanjut ke halaman berikutnya...

Hadisah merasa terpuruk. Impiannya untuk terus hidup bersama lelaki pilihannya harus terinterupsi. Dia semakin jeri akan masa depannya. Segera kesadarannya pun terjaga saat teringat Linggar Vita Firmansyah dan Yesinta Sendi Prastika—dua anak yang amat dicintainya.

Dia memotivasi dirinya untuk bangkit dari keterpurukan. Wanita kelahiran 14 Mei 1972 ini kemudian mulai aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sumberagung, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat Pesanggaran, relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), hingga menjadi anggota Fatser (Fatayat Serba Guna) Kecamatan Pesanggaran.

Melalui organisasi-organisasi tersebut, Hadisah bisa berkontribusi kepada lingkungannya. Hal inilah yang membuatnya selalu bersemangat dalam setiap kegiatan sosial yang diikutinya.

Selain kegiatan sosial, Hadisah juga berusaha membangun bisnisnya sendiri. Pada 2015, ibu dua anak ini mendirikan CV Lady Dish Permata untuk menaungi proyek-proyeknya. “Sudah banyak proyek pembangunan yang saya garap, seperti plengsengan, paving jalan, dan jembatan,” ujarnya.

  

Aktivitas Hadisah bersama ibu-ibu Pesanggaran.

Berkat usaha hebatnya, Hadisah mampu bangkit dan melanjutkan hidup barunya. Yang membahagiakannya, si sulung, Linggar, telah lulus pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informasi dan Komputer (STMIK) Jakarta. Sedangkan si bungsu, Yesinta, saat ini masih duduk di bangku kelas 3 di sebuah SLTA di Kecamatan Pesanggaran.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Setelah menjalaninya cukup lama, dia mengaku lebih nyaman hidup menjadi orang tua tunggal karena banyak pekerjaan dan kegiatan yang harus dijalani. Alih-alih berpikir untuk menikah lagi, Hadisah mencurahkan energinya untuk menjalani pekerjaan dan kegiatannya. Apalagi, dialah kini yang menjadi tulang punggung keluarga kecilnya.

“Kalau bersuami lagi, tambah lagi beban dan tanggung jawab saya. Bisa nggak keurus sebab sulit membagi waktu untuknya,” seloroh Hadisah sambil terkekeh.

Meskipun sudah merasa nyaman, masih ada hal yang sering membuatnya cuak. Pandangan miring masyarakat terhadap wanita berstatus janda—lebih-lebih sudah memiliki dua orang anak—juga berlaku kepada dirinya. “Sangat mengganggu,” katanya. Namun, lanjutnya, dia memilih untuk mengabaikannya.

“Yang penting, yang kita lakukan baik,” ujarnya.

Menyoroti kehidupan wanita-wanita yang memilih hidup sendiri menjadi orang tua tunggal memang menarik. Meskipun berat, mereka ternyata mampu melewati berbagai ujian yang ada. Hebatnya, mereka tidak menjadi orang yang berbeda untuk menjadi penting. Mereka tetap menjadi ibu bagi anak-anaknya. Bahkan, bagi lingkungannya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur atas nikmat Allah. Pesan saya, hidup adalah perjuangan dan setiap proses harus kita nikmati dan kita syukuri,” tutur Hadisah. (bay)