Jumat, 02 Okt 2026
MENU

Peneliti Temukan Spesies Baru di TN Merubetiri

Sedulur, Pesanggaran - Tim peneliti dari Balai Taman Nasional Meru Betiri bersama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat temuan spesies baru cecak jari lengkung (bent-toed gecko) dari genus Cyrtodactylus.

Penelitian tersebut berlangsung pada Oktober hingga November 2025. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Zootaxa pada September 2026 melalui karya Muhammad Alif Fauzi dan sejumlah peneliti lainnya. 

Spesies yang sebelumnya sempat diidentifikasi sebagai Cyrtodactylus marmoratus itu kini ditetapkan sebagai jenis tersendiri dengan nama ilmiah Cyrtodactylus merubetiriensis. Nama tersebut merujuk pada kawasan Taman Nasional Meru Betiri sebagai lokasi penemuan spesies atau type locality.

Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri R.M. Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc. mengatakan, penemuan tersebut menjadi tambahan penting bagi catatan keanekaragaman hayati kawasan konservasi yang berada di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.


Baca Lainnya :

“Penemuan Cyrtodactylus merubetiriensis menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional Meru Betiri masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang perlu terus diteliti dan didokumentasikan secara ilmiah,” ujar Wiwied kepada Sedulur, Rabu, 30 September 2026.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan taksonomi integratif, yakni memadukan analisis molekuler DNA dengan pengamatan karakter morfologi. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan genetik dan karakter fisik yang signifikan dibandingkan spesies Cyrtodactylus lainnya yang telah diketahui di Pulau Jawa.

"Cecak tersebut merupakan satwa nokturnal yang ditemukan pada rentang ketinggian sekitar 20 hingga 680 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dengan penetapan spesies baru ini, Cyrtodactylus merubetiriensis menjadi spesies Cyrtodactylus ketujuh yang tercatat di Pulau Jawa," katanya.

Wiwied menambahkan, keberadaan spesies baru tersebut semakin memperkuat nilai penting TN Meru Betiri sebagai salah satu kawasan konservasi yang menyimpan beragam jenis flora dan fauna.

“Kami berharap hasil penelitian ini tidak hanya menjadi tambahan daftar jenis fauna, tetapi juga memperkuat upaya perlindungan habitat dan pengelolaan kawasan berbasis data ilmiah,” katanya.

Penemuan Cyrtodactylus merubetiriensis melengkapi kekayaan fauna TN Meru Betiri yang telah dikenal selama ini, antara lain banteng, elang jawa, serta Rafflesia zollingeriana.

“Masih terbuka peluang ditemukannya jenis-jenis lain yang selama ini belum teridentifikasi. Karena itu, kolaborasi antara pengelola kawasan, peneliti dan lembaga riset menjadi bagian penting dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang ada,” ucapnya.

Dengan adanya temuan ini, Wiwied menduga masih ada hidden diversity atau keanekaragaman hayati yang belum terungkap, khususnya pada kawasan hutan yang tersisa di Pulau Jawa.

"Bagi dunia konservasi, setiap penemuan spesies baru bukan sekadar penambahan nama dalam daftar keanekaragaman hayati. Temuan tersebut juga menjadi dasar penting untuk memahami persebaran, habitat, serta kebutuhan perlindungan suatu spesies," tuturnya.

Ia berharap, semakin banyak penelitian dapat mengungkap kekayaan biodiversitas yang selama ini masih tersembunyi di balik kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri. (gil)