Kamis, 08 Jan 2026
MENU

Cita Rasa Unik Kopi Khas Arab di Kedai Gahwaku

Sedulur, Kalipuro - Angin laut dari Selat Bali berembus kencang siang itu dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa, 9 Desember 2025. 

Pelabuhan yang menjadi nadi transportasi ujung timur Jawa itu masih ramai seperti biasa. Beragam kendaraan berlalu lalang di area pelabuhan. Bau asap kendaraan seketika menyeruak, bercampur dengan aroma garam yang terbawa angin dari selat. 

Di tengah hiruk pikuk yang masif itu, sebuah aroma yang berbeda datang meretas. Aroma itu berat, hangat, dan eksotis—sebuah undangan tak kasat mata bagi siapa pun yang melintas untuk menepi sejenak.

Jejak aroma tersebut bermuara pada sebuah ruang hangat “Gahwaku” milik Al Habib Ahmad bin Ridho Faisol Al Hamid yang berada di barisan ruko depan pelabuhan. Di tempat itu, pria berusia 31 tahun tersebut sedang menghidupkan cita rasa tradisional Arab dalam bentuk "kopi gahwa", sebuah sajian kopi yang kini menjadi perbincangan hangat di Banyuwangi.


Baca Lainnya :

Ketika Sedulur datang ke sana, Habib Ahmad sedang sibuk dengan kepulan uap yang keluar dari dallah (teko kopi khas Arab). Baginya, kopi bukan sekadar urusan kafein. Ia mengungkapkan kepada Sedulur bahwa ada misi budaya yang ia selipkan di setiap seduhan kopinya. 

"Kopi gahwa ini berbeda dengan kopi yang biasa orang temui di kafe-kafe pada umumnya," ujar Habib Ahmad dengan nada bicara yang tenang tapi penuh keyakinan.



Keunikan utama yang membuat kopi di Gahwaku berdiri di barisan yang berbeda adalah campurannya. Tidak hanya mengandalkan biji kopi pilihan, Habib Ahmad meracik sedikit demi sedikit rempah-rempah ke dalam bubuk kopinya: perpaduan antara kapulaga, cengkih, dan agaknya resep rahasia keluarga.

Di antara para pembeli, seorang pelanggan muda bernama Aqila, 20 tahun, tampak sedang menikmati kopinya.

"Kenapa harus beli di sini? Karena rasanya benar-benar beda. Ada sensasi rempah yang bikin aroma kopinya itu 'mahal' dan beda banget sama kopi yang dijual di luar," ungkap Aqila saat dimintai pendapatnya. 

Bagi Aqila, kopi di Gahwaku bukan sekadar minuman penghangat di kala hujan, melainkan sebuah kejutan rasa. Perpaduan rempah di dalamnya mampu menciptakan aroma yang tajam tapi menenangkan. Inilah yang membuat produk Gahwaku sulit ditiru. Ia memiliki “sidik jari" rasa yang tidak dijual bebas.

"Jujur saja menurut saya, ini enak banget buat penyegar saat haus. Meskipun ini kopi, tapi setelah diminum rasa haus langsung hilang dan tenggorokan jadi terasa plong karena rempahnya," katanya sembari tersenyum.

Meskipun mengusung konsep Arabic coffee yang kental dengan kesan premium, Habib Ahmad sangat bijak dalam menentukan harga. Ia tampaknya ingin mematahkan stigma bahwa kopi enak harus mahal. Di kedainya, kopi dijual dengan harga variatif, mulai dari Rp12.000 hingga Rp42.000.

Harga yang merakyat ini memungkinkan siapa saja—mulai dari sopir logistik yang sedang menunggu kapal, wisatawan yang hendak menyeberang ke Bali, hingga anak muda seperti Aqila—bisa mencecap kemewahan rasa kopi ala Jazirah Arab.

Menjelang penutupan tahun 2025, usaha Habib Ahmad di Ketapang ini seolah menjadi oase bagi mereka yang menginginkan rasa kopi yang lain. Di tangannya, kopi bertransformasi menjadi minuman yang inklusif dengan cita rasa eksklusif. 

Untuk mengembangkan bisnisnya tersebut, Ahmad telah membuka kedai Gahwaku Coffee & Eatery per 17 Desember ini. Kedai dengan konsep modern minimalis tersebut terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim No.90, Tukangkayu, Banyuwangi. (sdl)