MENU

Gelar Rakor, FPRB Banyuwangi Sasar Kolaborasi Lintas Sektor dalam Penanggulangan Bencana

Sedulur, Pesanggaran - Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banyuwangi menggelar rapat koordinasi (rakor) yang berlangsung selama dua hari di Balai Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, 27-28 Juni 2026.

Ketua FPRB Kabupaten Banyuwangi Mahbub Junaidi mengatakan bahwa rakor merupakan agenda rutin. Forum ini bisa menjadi kesempatan untuk menyusun langkah bersama dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif dan terpadu di Kabupaten Banyuwangi.

"Rapat koordinasi ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi antarrelawan, tetapi juga wadah untuk meningkatkan kapasitas dan memperkuat kolaborasi seluruh elemen dalam upaya pengurangan risiko bencana di Banyuwangi," ujar Mahbub usai apel bersama relawan di halaman balai desa, Minggu, 28 Juni 2026.

Menurutnya, tantangan kebencanaan semakin kompleks sehingga tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja. Oleh karena itu, FPRB terus mendorong kerja sama lintas sektor dengan konsep pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sebagai fondasi utama dalam membangun ketangguhan daerah.


Baca Lainnya :

Mahbub ingin menyatukan seluruh komunitas relawan, baik yang berada di bawah naungan pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan yang bergerak secara mandiri, untuk selalu bahu-membahu dalam kebencanaan.

"Kami ingin menghilangkan sekat dan ego sektoral di antara sesama relawan. Saat terjadi bencana, seluruh elemen harus mampu bergerak cepat sebagai satu kesatuan demi keselamatan masyarakat," tegasnya.

Dalam rakor tersebut, para peserta menyepakati sejumlah rekomendasi penting. Salah satunya adalah membangun jaringan komunikasi yang lebih aktif, cepat, dan terintegrasi antarrelawan di seluruh wilayah Banyuwangi.

Menurut Mahbub, sistem komunikasi yang baik akan mempercepat proses koordinasi, mobilisasi personel, distribusi informasi, hingga penanganan korban saat terjadi bencana.

Selain itu, FPRB juga mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk terus mendukung aktivitas kerelawanan melalui berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas, serta fasilitasi kegiatan organisasi relawan.

"Relawan merupakan mitra strategis pemerintah dalam penanggulangan bencana. Dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal," katanya.

Pemilihan Balai Desa Sarongan sebagai lokasi rakor juga memiliki pertimbangan khusus. Desa yang berada di wilayah Kecamatan Pesanggaran tersebut dinilai memiliki potensi ancaman bencana yang cukup tinggi sehingga tepat dijadikan lokasi peningkatan kapasitas relawan.

Dalam kesempatan ini, Mahbub juga mengapresiasi kekompakan komunitas relawan di Desa Sarongan. Menurutnya, mereka mampu menunjukkan semangat gotong royong dan kolaborasi yang baik dalam berbagai kegiatan sosial maupun kebencanaan.

"Komunitas relawan di Sarongan sangat solid dan memiliki semangat yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi masyarakat dapat mendukung upaya pengurangan risiko bencana," ujarnya.

Selain memperkuat koordinasi internal, Rakor FPRB Banyuwangi juga menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah daerah agar lebih mengintensifkan publikasi mengenai keberadaan dan peran Forum Pengurangan Risiko Bencana kepada masyarakat.

Mahbub menilai edukasi kebencanaan harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari fase prabencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, budaya sadar bencana diharapkan semakin kuat sehingga mampu meminimalkan risiko ketika bencana terjadi.

"Pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan saat terjadi bencana, tetapi harus dimulai sejak prabencana hingga proses pemulihan pascabencana. Edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan secara berkesinambungan," jelas Mahbub.

Rakor FPRB Banyuwangi di Sarongan ini diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai organisasi dan instansi, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI), Basarnas, BPBD Banyuwangi, Desa Tangguh Bencana (Destana), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Senkom Mitra Polri, RAPI, Rumah Zakat, Nurul Hayat, LRB, Relawan Gumitir, Aura Lentera, Satpol PP, Pemerintah Desa Kandangan, Pemerintah Desa Siliragung, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa, dan sebagainya.

Melalui rakor ini, Mahbub berharap sinergi lintas sektor semakin kuat sehingga mampu mendukung terwujudnya sistem penanggulangan bencana yang cepat, terpadu, responsif, serta berorientasi pada keselamatan dan ketangguhan masyarakat Banyuwangi dalam menghadapi berbagai potensi bencana. (gil)