Jumat, 24 Mei 2024
MENU
Waisak 2024

Model Pembelajaran Guling, Pilihan di Tengah Pandemi

Sarongan - Model pembelajaran di sekolah berubah drastis sejak pandemi Covid-19 melanda. Pemerintah melarang semua sekolah dari jenjang TK sampai perguruan tinggi mengadakan model pembelajaran tatap muka di kelas.

Murid atau mahasiswa tidak lagi datang ke sekolah atau kampus untuk mengikuti pelajaran tatap muka dengan guru atau dosen. Sebagai gantinya, kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau online.

Bagi guru dan sekolah yang ada di kota dengan fasilitas yang memadai, melaksanakan model pembelajaran daring mungkin lebih mudah. Sayangnya, masih banyak daerah yang kesulitan menyelenggarakan pembelajaran daring ini, salah satunya di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Permasalahan ini sempat menjadi pemikiran Siti Badriah, 43 tahun, guru kelas 2 SDN 3 Sarongan. Menurutnya, keadaan ini akan merugikan anak-anak didiknya karena mereka tidak bisa mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.


Baca Lainnya :

model pembelajaran guling 2
Karena kendala internet, Badriah menggelar pembelajaran guling.

“Peserta didik banyak yang belum mempunyai smart phone dan masih banyak yang terkendala jaringan internet,” katanya.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Rasa cinta dan tanggung jawab kepada murid-muridnya mendorong Badriah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran ini. Akhirnya, dengan seizin pihak sekolah dan kesepakatan dengan para orang tua, Badriah memberanikan diri untuk membuka kembali pelajaran tatap muka.

Kegiatan ini tidak dilaksanakan di sekolah seperti biasanya, tapi di rumah siswa. Badriah menamai kegiatan ini guling, kepanjangan guru keliling.

Dalam prakteknya, Badriah membentuk kelompok-kelompok belajar kecil dengan beranggotakan maksimal tujuh peserta didik. Pada jam pelajaran, kelompok ini berkumpul di rumah salah seorang siswa dan Badriah datang untuk menyampaikan pelajaran secara bergantian. Kegiatan belajar hanya berlangsung selama dua jam saja perhari.

“Semua peserta didik harus tetap menjalankan protokol Covid-19, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak,” tutur Badriah.

Banyak kendala yang dihadapi saat pelaksanaan guling, seperti ban kempes di jalan, peserta didik yang telat datang, dan lain-lain. Akan tetapi, Badriah tidak patah semangat karena menurutnya ini adalah kewajibannya.

Ide kreatif Siti Badriah ini mendapat pujian dan dukungan dari wali murid. Dengan adanya model pembelajaran guling, pendidikan anak-anaknya masih bisa berlanjut. “Walaupun di tengah pandemi seperti ini, gurunya masih berjuang untuk mencerdaskan anak-anaknya,” kata salah seorang wali murid, Diana, 29 tahun. (gil)