Senin, 17 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Mustofa Tetap Mengukir Juga Melukis

MUSTOFA sedang memainkan kuas di atas kanvas ketika Sedulur mendatanginya di galeri yang menjadi tempat usahanya, Jumat, 2 Oktober 2020. Beberapa lukisan yang sudah jadi tergantung di dinding dan apa saja yang bisa menggantungnya di ruangan itu. Sebagian terlihat sudah cukup lama dibuat.

Di sudut lain, puluhan ukiran terpajang kurang rapi, terbungkus plastik, berupa kaligrafi dan ornamen lainnya. Ruangan berukuran tidak lebih dari 12 m2 itu terasa sempit, tapi tidak menyesakkan. Mungkin karena aura karya seni yang ada di sini, sehingga kesemerawutan justru terasa unik.

Baca juga: Jalan Pelik Pembalap Cilik

Di tempat inilah lelaki 42 tahun tersebut menghabiskan waktu untuk mengukir dan melukis. Galeri Mustofa Ukir, demikian dia menamainya, berada di wilayah Desa Sumbermulyo, tepatnya di samping gapura masuk ke pemakaman umum “Kota Raga Suci”.


Baca Lainnya :

mustofa ukir 1
Ukiran karya Mustofa memenuhi galerinya di Sumbermulyo.

“Ya, beginilah keadaannya, mas,” kata Mustofa menyambut Sedulur sambil berusaha merapikan sebuah tempat duduk dan segera menyorongkan kepada tamunya. Dia tidak mutlak menghentikan aktifitasnya saat mengobrol, cerita-ceritanya begitu menarik hati.

Mustofa kecil tidak sempat menamatkan pendidikan di Madarasah Ibtidaiyah (MI) di Pesanggaran. “Saya dulu sekolah di tempat beliau,” katanya sambil menunjuk sebuah lukisan separuh badan K.H. Fathul Mubin Amirulloh, pendiri Pondok Pesantren Minhajussailikin Pesanggaran.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Di bawah lukisan tersebut, terdapat sebuah kalimat “lek awakmu ditukari wong, dadio tunggak (ojo mbales)” yang artinya kurang lebih, jika ada orang yang menyakitimu, jadilah tunggul (jangan membalas).

Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya, bukan berarti Mustofa tidak bisa melanjutkan hidupnya. Pada tahun 1994, ia merantau ke Pulau Bali dan bekerja di sebuah proyek bangunan bersama bapaknya. Keterbatasan pendidikan membuatnya tidak mempunyai banyak pilihan lapangan pekerjaan.

Baca juga: Penjual Ikan Legendaris Pesanggaran

Beruntung dia diperkenalkan dengan beberapa seniman oleh pengawas kerja yang merupakan teman bapaknya. Mustofa pun mulai menggemari seni ukir dan lukis. Dua tahun kemudian, ia memutuskan pulang ke Jawa dan pergi ke kota Jepara, kota yang terkenal dengan ukiran-ukirannya yang indah.

mustofa ukir 2
Lukisan karya Mustofa di galaerinya.

Di Jepara, tepatnya di Desa Sukodono, ia ikut Suparman anak dari Kamisan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya. Berkat bimbingan Suparman, kemampuan Mustofa makin terasah. “Saya di Jepara kurang lebih 15 tahun,” katanya.

Ia kemudian meninggalkan Jepara dan mencari pengalaman dan pengetahuan baru di tempat lain. Kali ini, tujuannya adalah Langon, Gresik di mana ia menjadi tukang ukir di sebuah perusahaan mebel.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Kalau sudah jodoh, jarak dan waktu bukan halangan. Itulah ungkapan yang mungkin tepat menggambarkan pengembaraan Mustofa. Setelah beberapa tahun di Gresik, ia kemudian menikahi seorang wanita asal Jepara, Erna Pujiati. Dia pun membawa istrinya pulang ke Banyuwangi yang merupakan tanah kelahirannya.

Bersama istrinya, ia memulai usaha ukiran dan lukisan di kampung halamannya. Lama-kelamaan namanya mulai dikenal sampai mendapat julukan ‘Mustofa Ukir’. Nama inilah yang kemudian dipilih untuk menamai galerinya.

Meskipun sudah memulai usaha bersama-sama, kebersamaan Mustofa dan Erna harus berakhir dengan sebuah perceraian. Sejak hal itu terjadi, dia semakin sering menghabiskan waktu di galerinya.

Baca juga: Usaha Ternak Kambing di Tengah Kesibukan

“Ada beberapa lukisan sebagai ekspresi perasaan hati setelah berpisah dengan anak dan isteri,” kata Mustofa sambil menunjukkan lukisan yang dimaksud.

Seiring berjalannya sang waktu, Mustofa pun menikah lagi. Berkat dukungan dan pengertian dari istrinya, galerinya bisa berkembang. Dia juga sering mengikuti pameran seni, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi.

“Pesanan selalu ada,” katanya. “Meskipun hanya untuk mengukir rangka dan gagang golok, saya tidak menolaknya.”

Kini, Mustofa dibantu adiknya terus berkarya menekuni usahanya, meski terkadang sepi, ia tetap optimis untuk memajukan usaha yang telah dirintisnya. “Asalkan kita bersungguh-sungguh, insyaallah kita akan berhasil,” kata Mustofa mengutip pesan dari guru ngajinya dulu. (bay)