Jumat, 24 Mei 2024
MENU
Waisak 2024

Pemuda Ansor Pesanggaran Gelar Refleksi Sejarah PKI di Banyuwangi


Sedulur, Pesanggaran - Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi menggelar malam refleksi dan doa bersama sebagai bagian dari peringatan peristiwa G 30S PKI, Jumat, 30 September 2022. 

Acara ini bertempat di aula Kantor Kecamatan Pesanggaran. Dalam kesempatan ini, PAC Ansor mengundang Forpimka Kecamatan Pesanggaran, Banser, Pagar Nusa, serta beberapa pengurus MWC dan Ranting NU se-Kecamatan Pesanggaran. 

"Malam refleksi ini sangat penting untuk diingat, apalagi untuk adik-adik yang masih sekolah, karena di sekolahan sudah jarang diajarkan," kata Camat Pesanggaran, R. Agus Mulyono, saat berkesempatan menyampaikan sambutan. 

Baca juga: Satu Korban Meninggal dalam Kecelakaan di Perkebunan Arah Desa Kandangan


Baca Lainnya :

Camat Pesanggaran bersepakat bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) sekarang sudah tidak ada. Akan tetapi, pahamnya masih ada hingga saat ini. "Seperti mudah terhasut dan adu domba," katanya mencontohkan. 

Untuk mencegah paham ini masuk dalam generasi penerus bangsa, Agus mengimbau untuk tetap memperkuat keorganisasian, salah satunya, dengan berkhidmat dalam Nahdlatul Ulama yang selalu menjadi benteng NKRI. 

Menurut Ketua PAC GP Ansor Pesanggaran, Abdul Rohman, kegiatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam kesempatan ini, pengurus PAC sengaja menggelar refleksi untuk memberikan wawasan tentang peristiwa kelam yang terjadi di Bumi Blambangan.

Baca juga: Puskesmas Sumberagung Kenalkan Anemia kepada Remaja Putri

Meskipun sore harinya sempat diguyur hujan, peserta tetap antusias untuk menghadiri acara yang dimulai pukul 7 malam. Sebagai pembuka acara, panitia menyajikan pembacaan selawat oleh Majlis Sholawat Pesanggaran. 

Kemudian, sesepuh Ansor Pesanggaran, Hasyim Ali, berkisah mengenai peristiwa berdarah yang terjadi di Cemetuk, Cluring, Banyuwangi pada sekitaran 1965. Peristiwa tersebut melibatkan para pemuda Ansor masa itu.

"Peristiwa Cemetuk menjadi salah satu [bukti] ketidaksukaan PKI terhadap NU. Puluhan pemuda Ansor dikubur hidup-hidup. Mereka dijebak dan diracuni oleh Gerwani yang menyamar menjadi anggota Fatayat," katanya.

Baca juga: Masyarakat Nelayan Pancer Gelar Kirab Sesaji Petik Laut

Mengingat pahitnya peristiwa tersebut, Hasyim tidak rela paham komunis hidup lagi. Dia pun mengajak kepada semua yang hadir untuk merapatkan barisan guna mencegah berkembangnya paham komunis. 

Sementara itu, Kapolsek Pesanggaran, AKP Basori Alwi, ikut berbagi cerita masa kecilnya. "Di saat ada pemutaran film G 30S PKI, ayah saya yang matan ketua Ansor selalu memberikan wejangan kepada anak-anaknya tentang kekejaman PKI," tuturnya.

Dia bercerita bahwa ayahnya tahu betul tentang peristiwa di Desa Cemetuk, siapa pimpinannya, siapa yang mengomando, serta nama-nama temannya yang menjadi korban dari pihak Ansor. 

Baca juga: Pesanggaran Gelar Banyuwangi Culture Week

Selanjutnya, Basori menuturkan tentang Nahdlatul Ulama kepada semua peserta. Dia mengatakan, apabila negara dalam keadaan genting, yang paling mudah diajak berkolaborasi adalah NU. NU merupakan salah satu aset negara yang sangat berharga. 

"Maka dari itu, imbauan dari Kapolri, kalau ada kegiatan NU, hadiri, ikuti, dan amankan," ujarnya. 

Acara refleksi sejarah tersebut digelar secara lesehan. Setelah diskusi yang berjalan dengan santai, sekitar pukul 11 malam acara pun berakhir. (ala)