Sedulur, Pesanggaran - Seorang lelaki setengah baya terlihat sedang sibuk di dekat sebuah perahu kecil. Tangannya dengan cekatan memasukkan berbagai benda mulai aneka hasil bumi, bunga-bunga, hingga kepala kambing ke dalam perahu lalu menatanya sedemikian rupa. Hiasan berupa janur, pita, dan rumbai-rumbai pada perahu sudah terpasang sebelumnya. Aktivitas yang dilakukan Tusiono, demikian nama lelaki tersebut, merupakan bagian sangat penting dari rangkaian petik laut di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kecamatan Banyuwangi. Lelaki 54 tahun tersebut sedang menyiapkan sesaji yang akan dilarung ke laut saat petik laut. Bagi masyarakat Rejegwesi, Tusiono merupakan sosok penting dalam menjaga kelestarian tradisi leluhur. Ia merupakan penjaga nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Ia adalah kuncen Pantai Rajegwesi sekaligus pemimpin seluruh prosesi adat petik laut. Karena posisinya tersebut, ia mengemban amanah memimpin seluruh rangkaian ritual, mulai dari meracik sesaji, menjalankan laku spiritual, memimpin doa bersama, hingga melepas perahu sesaji ke tengah laut. Mengenai sesaji pelarungan tersebut, Tusiono mengaku melakukannya dengan penuh ketelitian agar tetap sesuai dengan tata cara yang diwariskan para leluhur. Baginya, menjaga tradisi berarti menjaga identitas masyarakat Rajegwesi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Ia mengaskan bahwa sesaji tersebut bukanlah sembahan. "Sesaji itu memiliki makna pengingat agar manusia selalu bersyukur, menjaga alam, dan tidak serakah dalam memanfaatkan hasil laut. Laut adalah titipan Tuhan yang harus dijaga bersama," ujar Tusiono dalam wawancara dengan sedulur.co. Sebelum memimpin rangkaian Petik Laut, ia terlebih dahulu berdoa di Petilasan Mbah Agung Wilis, tempat yang diyakini masyarakat memiliki nilai sejarah dan spiritual. Doa ini sebagai penghormatan kepada leluhur yang dahulu membuka serta menjaga kawasan Rajegwesi. Laku ini juga ia sebut sebagai bentuk penyucian diri dan persiapan batin. Selain itu, ia juga menjalani puasa mutih dan puasa ngebleng selama tiga hari. Ia melakukannya sebagai ikhtiar batin untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh prosesi berjalan lancar, sekaligus memperoleh ilham dalam menentukan nama perahu sesaji yang akan dilarungkan. Melalui laku spiritual tersebut, Tusiono mengaku memperoleh nama "Sari" untuk perahu sesaji petik laut tahun ini. Nama itu tertulis jelas di lambung perahu. Dalam bahasa Jawa, sari berarti inti, esensi, atau bagian yang paling berharga. Kata tersebut juga dimaknai sebagai lambang keberkahan, kemakmuran, hasil terbaik, serta manfaat yang dapat dirasakan banyak orang. "Prosesi dimulai dari doa bersama, kemudian sesaji dibawa menggunakan perahu yang telah diberi nama sesuai petunjuk yang kami dapatkan melalui laku spiritual,” ujarnya. Nama tersebut juga mengandung doa agar para nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah, kehidupan yang sejahtera, serta hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. "Petik laut ini adalah tradisi leluhur yang kami lestarikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Gusti Allah atas hasil laut yang diberikan kepada para nelayan. Semua prosesi dilakukan dengan doa agar masyarakat diberi keselamatan saat melaut, hasil tangkapan melimpah, serta dijauhkan dari segala marabahaya," tuturnya. Ia berharap generasi muda terus mencintai dan melestarikan tradisi petik laut sebagai bagian dari jati diri masyarakat Banyuwangi. "Budaya adalah jati diri masyarakat. Selama kita menjaga adat yang baik dan tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga Rajegwesi selalu diberi keselamatan, keberkahan, dan hasil laut yang melimpah," katanya. Sekadar informasi tambahan bahwa keberadaan Tusiono sebagai kuncen Pantai Rajegwesi menggantikan kuncen sebelumnya Sutopo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Topo yang telah wafat. (gil)Baca Lainnya :
