Selasa, 16 Apr 2024
MENU
Ramadan 2024

Produksi Kerupuk Gambir di Titik Nadir

SIANG itu matahari bersinar terang. Sinarnya sudah terasa terik meskipun masih pukul sembilan. Di dalam rumah, Komsatun, 65 tahun, sedang sibuk membuat bakal kerupuk gambir, kerupuk gurih berbentuk dadu atau kubus.

Tiga sak tepung tertata rapi di pojok ruangan. Di sebelahnya, berbagai macam bumbu dan rempah-rempah ditaruh di atas sebuah meja. 

Baca juga: Ikan Cupang, Hiburan yang Menguntungkan

Komsatun meracik bumbu dan rempah-rempah tersebut. Satu sak tepung dia tuang ke dalam ember. Pun bumbu yang ia racik. Setelah menambahkan air, dia mulai mengaduk tepung dan bumbu itu sampai benar-benar tercampur. Kemudian, adonan itu ia tuang ke dalam cetakan berupa loyang berbentuk persegi.


Baca Lainnya :

kerupuk gambir 1
Komsatun memetik buah kakao di kebun samping rumahnya.

Sebuah wajan besar berisi air sudah siap di atas tungku yang membara. Ketika air mendidih, dengan sigap Komsatun meletakkan loyang-loyang berisi adonan pada sebuah rak khusus. Rak itu berada di atas wajan. Sedangkan bagian atasnya ditutup dengan drum. Sesekali dia kibaskan tangannya untuk menghalau asap yang menyerbu mukanya.

Sambil menunggu bakal kerupuknya mengenyal, wanita bercucu empat itu kembali ke tempat adonan berada dan mengisi loyang-loyang lainnya. Beberapa saat kemudian, ketika adonan sudah mengenyal, ia angkat loyang-loyang tersebut dan meniriskannya sebentar. 

Lanjut ke halaman berikutnya...

"Kalau sudah seperti ini, baru kita jemur selama kurang lebih dua jam," katanya sambil menyorongkan kayu bakar ke dalam lubang tungku.

Proses selanjutnya adalah memotong adonan yang telah dijemur tadi menjadi kubus atau dadu kecil-kecil. Potongan-potongan ini lalu dijemur lagi. "Kalau cuacanya bagus [panas], empat hari sudah bisa digoreng," tuturnya.

Semakin ke sini, jajanan tradisional semakin banyak yang menghilang di pasaran. Faktornya macam-macam. Orang zaman sekarang kurang menyukai rasanya. Ada juga yang menganggap ketinggalan zaman. Tidak keren.

Baca juga: Peralatan dari Bambu dan Pasar yang Kian Lesu

Karena alasan tersebut, orang berhenti memproduksinya. Kalaupun diproduksi, barangnya tidak akan laku dan pembuatnya merugi.

Dalam keadaan seperti ini, mempertahankan jajanan tradisional menjadi tantangan tersendiri bagi para pengusaha. Berbagai upaya telah banyak dilakukan, misalnya dengan memodifikasi tampilannya. Juga rasanya. Bahkan, pemerintah turut terlibat dengan mempromosikannya melalui berbagai cara.

Namun, tetap saja, belum mampu membendung hilangnya beberapa jajanan tradisional dari pasaran, seperti klanting, satu, kembang gulo, dan lain-lain.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Kepayahan ini juga dirasakan oleh Komsatun. Usaha membuat kerupuk gambir yang digeluti wanita asal Silirbaru, Sumberagung, Pesanggaran sejak tahun 90-an ini kini juga menurun. 

Dulu, ketika suaminya masih hidup, setiap pemilik toko di Pesanggaran, utamanya di Kandangan dan Sarongan, pasti mengenal dan menjual produknya. Produksinya bisa  Kini, dia hanya mampu memproduksi 70 kilogram kerupuk mentah kering setiap bulan. Pemasarannya pun tidak seluas dulu. Pada masa jayanya, produksi kerupuk Komsatun bisa mencapai 10 kali lipat dari saat ini.

Kerupuk buatan Komsatun dijual dalam keadaan mentah maupun matang. Kerupuk mentah seharga Rp20 ribu per kilogram, sedangkan kerupuk yang sudah digoreng seharga Rp30 ribu per kilogram.

Baca juga: Membuat Arang dari Tempurung Kelapa

Sepeninggal suaminya, Komsatun nyaris menggeluti bisnis ini sendirian. Anak sulungnya membantu pemasaran. Itu pun seminggu sekali, di sela-sela pekerjaannya di sawah.

Komsatun tetap ingin berpenghasilan sendiri agar tidak merepotkan anak-anaknya. "Saya terus bekerja agar tetap sehat. Karena kalau hanya berdiam diri, badan malah pegal-pegal semua," katanya.

Sebagai tambahan penghasilan, dia juga merawat kebun kakao di samping rumahnya. Ada sekitar 200 pohon kakao di kebun tersebut. Dari situ dia bisa memperoleh 50 kilogram kakao kering setiap bulan. (ala)