Senin, 17 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Tekad PEGA Olah Sampah

Civitas academica Politeknik Negeri Banyuwangi saat mengunjungi tempat budi daya maggot yang dikelola PEGA di Siliragung.

Sedulur, Siliragung - Pengalaman adalah guru terbaik. Peribahasa ini agaknya cukup mewakili gambaran perjalanan PEGA (Pemuda Etan Gladak Anyar) Siliragung, Banyuwangi, Jawa Timur hingga akhirnya memutuskan untuk menggeluti pengelolaan sampah sebagai aktivitas baru mereka. 

Ceritanya berawal ketika sejumlah pemuda warga Siliragung menyalurkan hobinya memancing dan menjala ikan di sungai. Pada saat itu, bukan ikan yang mereka dapatkan, tetapi hanya sampah yang berhasil mereka jaring. 


Mereka kecewa. Namun, kekecewaan itu tidak membuat mereka bertindak asal. Banyaknya sampah yang mereka temui di sepanjang sungai malah memantik keinginan untuk mengolah sampah di sungai tersebut agar menjadi lebih bermanfaat.


Baca Lainnya :


Di situlah kemudian terbentuklah komunitas PEGA Indonesia yang diketuai oleh Sundarianto. “Saat itu belum terpikirkan mau diapakan sampah tersebut,” katanya.


Nama komunitas tersebut dipilih berdasarkan lokasi tempat mereka biasa berkumpul dan memancing, yakni di timur jembatan baru pembatas wilayah Kecamatan Siliragung dan Pesanggaran.


Awalnya mereka mengolah sampah tanpa memikirkan keuntungan dan melakukannya hanya karena keprihatinannya melihat banyaknya sampah yang mereka temukan. Mereka juga ingin mempelajari hal baru: mengolah sampah.


Berdasarkan pengalaman dari sejumlah orang, harapan memperoleh profit dari mengolah sampah sangatlah kecil. Namun, hal ini tidak membuat Sundarianto dan kawan-kawan patah semangat.


"Tujuan sosial kami untuk mengolah sampah. Kalau bukan kita siapa lagi," ucap Sundarianto.


Sundarianto kemudian memiliki ketertarikan untuk mempelajari secara otodidak segala sesuatu mengenai maggot, yakni larva lalat tentara hitam (black soldier fly - BSF) untuk pengurai sampah organik.


Teknologi Internet membantunya mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Namun, memulai pengolahan sampah organik dengan maggot biaya yang dibutuhkan tidaklah murah. Tahun 2017, harga bibit maggot mencapai Rp30 ribu per gramnya.


"Kelompok kami tidak mampu. Maka kami memancing lalat dari alam dan mengumpulkannya untuk dibudidayakan," terangnya.


Pada tahun 2018, kelompok  PEGA Indonesia mulai melirik PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan tambang emas yang beroperasi di Tumpang Pitu, untuk memulai usaha budi daya maggot BSF.


Uniknya, Sundariyanto dan kawan-kawan awalnya menghadang armada penyuplai logistik perusahaan yang biasa melintas di wilayah desanya. Mereka tidak menuntut uang secara cuma-cuma. Akan tetapi mendesak PT BSI agar membantu melakukan pengolahan sampah.


Ketika itu, PT BSI sangat terkesan dengan tekad anak-anak muda tersebut. Alih-alih merepresi gerakan yang mereka lakukan, perusahaan justru sepakat membantu PEGA Indonesia.


"Kami memberikan fasilitas tempat atau kandang untuk produksi maggot," kata salah seorang dari Community Empowerment PT BSI Bahtiar Majid.


Menurut keterangannya, perusahaan juga telah membantu kendaraan untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah dan warung-warung. Selain itu, perusahaan juga memfasilitasi dan memberikan akomodasi pelatihan-pelatihan di sejumlah kawasan, seperti di kota dan kampus. 


Setiap bulan diadakan pertemuan antara PT BSI dan PEGA Indonesia untuk mengurai persoalan dan mencari solusi, termasuk soal kendala produksi seperti kurangnya pakan dan sampah.


"Kami ingin budidaya maggot ini berkembang," terang Bahtiar.


Setiap pekan, Sundarianto dan kawan-kawan mengolah kurang lebih tiga ton sampah organik. Mereka rata-rata memproduksi satu kuintal maggot segar (fresh) per minggu.


"Kalau kebanyakan sampah limbah dapur, hasilnya pupuk padat," jelas Sundarianto. 


Ada lima produk yang bisa diperoleh dari pengolahan sampah organik ini, yakni maggot fresh untuk pakan ikan dan unggas, maggot kering untuk pakan hewan hias, pupuk padat untuk tanaman, pupuk cair untuk dekomposer dan mengurangi amoniak lingkungan, serta insektisida organik untuk mengusir hama tanaman.


Semua produk tersebut berbahan baku sampah yang berasal dari PT BSI dan warga sekitar. Sasaran pemasaran hasil pengolahan sampah baru lokal Siliragung dan wilayah sekitar dan mereka belum tertarik untuk melebarkan sayap ke luar wilayah.


"Alhamdulillah, kami sampai kekurangan produksi persediaan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan sendiri," kata Sundarianto.


Dari usaha yang mereka jalankan pada akhirnya  PEGA Indonesia bisa menghidupi kelompok secara mandiri.


Meski sempat kesulitan bahan baku pada periode 2018-2020. Namun kendala yang dihadapi mulai dapat teratasi setelah Sundarianto lebih massif mengambil sampah rumah tangga.


Mereka menukar tempat sampah warga yang berisi sampah organik setiap kali mengepulnya, sehingga rumah warga senantiasa bersih.


"Teman-teman belum berani ambil sampah ke perumahan, produksi pun minim. Kami mengadakan pertemuan, mencoba mencari solusi. Bagaimana kalau kita jemput bola datang ke perumahan, menawarkan jasa pengangkutan sampah dan mendatangi warung-warung untuk menawarkan pemungutan sampah," kata Bahtiar.


Saat ini, sebanyak seratus keluarga yang menyalurkan sampah kepada PEGA, dari semula hanya 15 keluarga.


Kelompok PEGA juga mengambil limbah pertanian berupa buah semangka dan buah naga yang rusak saat dipanen. Namun, mereka masih belum maksimal dalam mengolahnya.


Rumah pengolahan PEGA yang difasilitasi BSI cukup luas, bisa mengolah 2 ton sampah per hari. Sayangnya, baru 3 ton sampah yang bisa mereka dapatkan per pekannya.


Kurangnya ketersediaan bahan mengurangi kemampuan produksi sehingga kelompok PEGA lebih banyak memproduksi telur dari pada maggot fresh.


Untuk Magot yang sudah dewasa, dikatakan oleh Sundarianto tidak perlu diberi makan, dan akan menjadi lalat dan menghasilkan telur melalui siklusnya.


"Kemarin kami menyuplai per hari 1 ons untuk membantu budi daya maggot dalam skala bisnis dan kami menjualnya Rp2.500 per gramnya," kata Sundarianto.


Kendati bermanfaat untuk lingkungan, pusat pengolahan sampah organik ini sempat memicu protes warga sekitar pada 2020 karena bau yang ditimbulkan sangat menyengat.


Saat itu, puluhan warga kampung mendatanginya. "Kami disuruh pindah dari tempat ini," katanya.


Sundarianto pun kemudian melakukan dialog dan berusaha meyakinkan warga akan berupaya keras untuk meminimalisasi bau yang ditimbulkan. Ia lalu memperkenalkan pengolahan sampah yang ramah lingkungan.


"Kalau sampai rumah masih bau, monggo datang lagi. Alhamdulillah, sampai rumah, warga tidak komplain lagi karena bau sudah teratasi," katanya.


Protes dari warga tidak sekali terjadi. Pertengahan 2021, warga kembali berunjuk rasa karena mayoritas mereka belum teredukasi soal pengolahan maggot. Namun, semua bisa diselesaikan dengan dialog.


Pihak PEGA bersama BSI berusaha meyakinkan warga bahwa pengolahan sampah yang mereka lakukan berbeda dengan di tempat pembuangan sampah.


"Bau yang muncul berasal dari sampah organik, dan kami mengolahnya. Kami ada treatment khusus ketika ada bau. Bau tidak sampai berhari-hari seperti kalau sampah menumpuk di jalan," kata Bahtiar.


Kerja keras Sundarianto dan kawan-kawan suatu ketika menarik perhatian luar negeri. Pemerintah Norwegia dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki program Clean Ocean through Clean Communities (CLOCC).


Pada Februari 2023, mereka menandatangani kontrak perjanjian kerja sama dengan Indonesia Solid Waste Association (INsWA) dan CLOCC. PEGA diangkat menjadi konsultan lokal untuk mendampingi pengolahan sampah di 14 desa dan satu kelurahan di Banyuwangi hingga Februari 2024, antara lain Kebondalem, Tamansari, Genteng Kulon, Genteng Wetan, Glagah, dan Setail.


Sundarianto menduga InSWA memperoleh informasi tentang kiprah PEGA dari media sosial. Ia kemudian diundang untuk menghadiri pertemuan di pusat kota Banyuwangi.


Belum lama ini,  PEGA juga mendapat tawaran melatih pengolahan sampah di Australia pada Mei 2023. Semula bimbingan dilakukan via media sosial. Namun, warga Australia meminta perwakilan PEGA datang dan membimbing langsung.


Keberhasilan PEGA dalam menjalankan usahanya ini membuat PT BSI ingin mengembangkan pengolahan sampah lebih luas. Bahtiar mengatakan, pada November 2023, pihaknya telah memfasilitasi pelatihan dengan Pemerintah Desa Pesanggaran, PKK, badan usaha milik desa, dan pemuda.


"Teman-teman mendampingi agar berkembang. Jadi benar-benar produksinya dapat berkelanjutan dan tidak sampai putus," katanya 


Oleh karena berkaitan dengan sampah menurutnya komitmen kelompok harus bagus dan kuat agar produksinya bagus. Pengembangan bekerja sama dengan desa dilakukan dengan penyediaan lahan. "Dan kami memfasilitasi tempat kandang maggot," kata Bahtiar.


Berdasarkan hasil evaluasi, PT BSI berniat mengembangkan pengolahan sampah organik di Pesanggaran karena keberadaan sampah ada di banyak tempat, seperti di pasar dan warung makan.


Direktur PT BSI Riyadi Effendi menegaskan komitmen perusahaan dalam memastikan keberadaan perusahaan dan semua kegiatannya dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan seluruh pemangku kepentingan.


Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT  Bumi Suksesindo sejauh ini telah berhasil mewujudkan banyak hal.


"Kami mengembangkan binaan PT BSI budi daya maggot untuk pakan ternak berkualitas tinggi, dengan memanfaatkan limbah organik yang ada di perusahaan," kata Riyadi memungkasi. (bay)