Selasa, 18 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Tradisi Sungkeman Siswa PSHT Tumpengreges Menjadi Ajang Penguatan Bakti Terhadap Orang Tua

Sedulur, Pesanggaran - Tempat pelatihan Setia Hati Terate (SH Terate) Sub-Rayon Tumpengreges, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi menggelar acara sungkeman siswa didiknya menjelang tradisi pengesahan menjadi warga tingkat satu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Jumat, 28 Juli 2023.

Kegiatan yang berlangsung di halaman SDN 9 Sumberagung tersebut dihadiri oleh Kapolsek Pesanggaran Iptu Lita Kurniawan dan para orang tua/wali siswa.

Salah seorang pelatih, Anang Supriyadi, mengungkapkan bahwa acara sungkeman dilaksanakan untuk memohon doa dan restu orang tua agar segala urusan menuju tahapan pengesahan dilancarkan.

Sungkem seorang anak kepada orang tua, menurut Anang, merupakan wujud penghormatan sekaligus bentuk bakti seorang anak kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Baca Lainnya :

Selain berbakti kepada orang tua, siswa didik juga harus berbakti kepada guru pengajar atau pelatihnya. Utamanya kepada Tuhan dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi  segala laranganNya.

PSHT memegang erat salah satu filosofi Jawa, yakni "mikul dhuwur mendhem njero" yang mengandung makna menghormati dan menjunjung tinggi nama baik orang lain, khususnya orang tua, dan tidak mengumbar keburukannya. 

"Tahun ini ada 8 orang dari 19 siswa yang akan disahkan," kata Anang.

Sebagai seorang pelatih, Anang berharap setelah siswa didiknya disahkan, mereka dapat memperdalam pengetahuan ajaran Panca Dasar SH-Terate, yakni persaudaraan, olah raga, beladiri, kesenian, dan kerohanian.

Dalam acara sakral tersebut, para siswa duduk bersimpuh di hadapan orang tuanya seraya memberi penghormatan, meminta maaf, serta memohon doa dan restu agar mereka menjadi orang-orang yang senantiasa dirahmati dan diberkati.

Suasana seketika menjadi haru ketika anak-anak tersebut membasuh kedua kaki orang tuanya. Beberapa orang tampak tak kuasa menahan air matanya menetes. Malam ini seperti menjadi pelepasan setelah dua tahun mereka harus berlatih, bertaruh waktu, tenaga, pikiran, dan finansial.

Mereka ditempa untuk bisa menjadi orang-orang yang berkualitas, memiliki budi pekerti luhur, tahu benar dan salah, dan dapat menuju kesempurnaan sebagai seorang insan. 

Anang Supriyadi mengutip lagi sebuah ungkapan "palu menghancurkan kaca, tetapi palu membentuk baja". Makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut, menurutnya, jika jiwa seseorang rapuh seperti kaca, ketika palu atau masalah menghantam dirinya, dia akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, atau marah.

Seseorang yang bermental seperti kaca akan rentan terhadap benturan, menjadikannya mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati tatkala berinteraksi dengan orang lain.

"Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan," katanya.

Sebaliknya, bagi orang yang bermental baja, menurutnya, akan selalu berpikiran positif, bahkan tetap bersyukur di saat menghadapi masalah atau dalam keadaan sulit. Orang yang demikian beranggapan bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih baik.

Sepotong besi akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang terasa menyakitkan, tetapi disadari itu baik baginya.

"Jangan jadi kaca. Jadilah palu," katanya berpesan.

Lanjutnya, jika seseorang adalah baja, akan melihat palu yang menghantamnya sebagai sahabat yang akan membentuk dirinya menjadi lebih baik dan berkualitas. Sebaliknya, jika dirinya adalah kaca, akan melihat palu sebagai musuhnya yang akan menghancurkannya. (bay)