Kamis, 30 Apr 2026
MENU

Arini Collection, Penjahit Langganan Institusi-Institusi di Gambiran

Sedulur, Gambiran - Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Dalam perkembangannya, pakaian lebih dari sekadar pelindung tubuh, melainkan juga simbol identitas dan etika hingga kelas sosial.

Kebutuhan tersebut terus berkembang seiring bertambahnya manusia. Dengan begitu, bisnis pakaian pun bertumbuh, mulai dari produksi sampai distribusi ke konsumen.

Di Jalan Damai, tepatnya di sebelah utara Musala Al-Mubarokah Dusun Sidorejo Kulon, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi tinggal seorang penjahit terkenal, Siti Mubarokah, 46 tahun. Ia menjalankan usahanya di bawah bendera Arini Collection.

Ketika Sedulur menemuinya, ia terlihat berusaha merapikan setumpuk kain yang sebelumnya ia potong, Senin, 6 April 2026. Gunting yang tadi ia pegang telah ia taruh di atas meja mesin jahit.


Baca Lainnya :

“Sedang ngurus pesanan [seragam] sekolah (menyebut nama sebuah sekolah),” kata Rokah, panggilan akrabnya, menjelaskan apa yang baru saja ia kerjakan.

Meskipun ruang kerjanya terlihat kecil, Arini Collection bukan berarti tidak pernah mengerjakan proyek-proyek besar. Rokah mengaku institusi-institusi besar di wilayah Kecamatan Gambiran adalah pelanggannya, seperti Rumah Sakit Graha Medika Yosomulyo dan Pondok Pesantren Mambaul Huda Krasak.

Tidak berhenti di situ, deretan institusi pendidikan, mulai dari TK hingga SMK beserta para guru juga banyak yang mempercayakan pembuatan seragam mereka pada penjahit rumahan ini. Bahkan, seragam dinas pegawai Kecamatan Gambiran hingga seragam para pendamping sosial, semuanya lahir dari tarikan benang mesin jahit Siti Mubarokah. 

Ahmad Zamroni, seorang pegawai di lingkungan Kecamatan Gambiran, menyebut kualitas garapan Rokah yang menjadi alasan ia dipilih untuk menggarap seragam kecamatan. Selain itu, pelayanannya sangat responsif, kalau ada kekurangan dan kritik langsung direspon dan diperbaiki saat itu juga.  

"Selain harganya murah, jahitannya itu halus dan bagus. Saya sendiri sudah menjahitkan pakaian di sini beberapa kali dan selalu puas dengan hasilnya," tuturnya.

Pengalaman Dua Dekade Lebih

Arini Collection dimulai pada 2001 silam dengan modal seadanya. Rokah mengaku hanya mengantongi uang Rp35.000 saat memulai usahanya itu. Berkat keuletannya, Arini Collection bisa melewati berbagai hambatan dan bertahan hingga kini. Kini, Arini telah memiliki mesin jahit listrik dan semua peralatan jahit lengkap dan tiga orang pegawai yang dibayar harian.

Sampai hari ini, Rokah mengaku hanya mengandalkan word of mouth marketing atau promosi dari mulut ke mulut untuk mendukung usahanya. Bisa dibilang, tim marketingnya adalah para pelanggannya yang merasa puas dengan pelayanannya.  Untuk hal ini, Siti Mubarokah memilih offline, tanpa jejak di internet atau media sosial. Tidak ada jam buka-tutup toko yang pasti. Jam operasionalnya mengalir begitu saja, tidak menentu mengikuti ritme kehidupan sang pemilik. (sdl)