Jumat, 24 Mei 2024
MENU
Waisak 2024

Dari Maggot Pengurai Sampah Jadi Rupiah

Sedulur, Sumbermulyo - Mesin pengurai sampah berupa larva maggot yang dijalankan oleh Kelompok PEGA Indonesia di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi tidak hanya dapat mengurangi permasalahan sampah, namun juga mendatangkan rupiah bagi para pengelolanya. Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Menurut Ketua PEGA Indonesia, Sundariyanto, ada banyak varian produk yang dapat dijual dari usaha ini, antara lain telur BSF, maggot usia 7-20 hari, dried maggot atau maggot yang dikeringkan dan pelet. Kandungan minyak pada larva memiliki kandungan asam lemak baik yang cocok untuk bahan pembuatan kosmetik maupun obat.  

Baca juga: BSI Serahkan PCR Bantu Penanganan Covid-19 Banyuwangi

Saat ini, PEGA dapat menghasilkan maggot 15-20 kilogram per harinya. Meskipun demikian, mereka saat ini masih berkonsentrasi pada produksi dan pemasaran telur BSF. Bahkan, pembelinya kebanyakan dari luar daerah, seperti Kalimantan, Bali, Bandung, Magetan, Jember, Bangka, Malang dan lain-lain.


Baca Lainnya :

"Untuk telur maggot, kami menjualnya seharga Rp 6.000-7.000 per gramnya," katanya.

pelihara maggot
Seorang anggota PEGA Indonesia sedang menjemur pelet dari maggot.

Memang keuntungan yang diperoleh para pemuda ini belum besar karena mereka baru memulai usaha ini enam bulan yang lalu, setelah PT Bumi Suksesindo (BSI) selesai membuatkan mereka tempat pengembangbiakannya. Namun, mereka bersyukur karena dapat membiayai operasional usahanya dari penjualan yang dilakukan.

“Kami memulai usaha ini Juli 2019 setelah dibantu BSI membuat tempat ini,” kata Sundariyanto.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Wakil Ketua PEGA Indonesia, Dirga Wira H. menambahkan, meskipun permintaan pasar tinggi, pihaknya tidak menjualnya keseluruhan. PEGA mengupayakan untuk menambah program penciptaan produk turunan baru, seperti pelet dan dried maggot. Sebagian juga dipelihara hingga menjadi lalat BSF. Tujuanya untuk memastikan proses pembibitan terus berkesinambungan dan keberadaan mesin pengurai sampah miliknya tetap beroperasi.

"Sebagian larva maggot, kita biarkan tumbuh hingga menjadi pupa, yang selanjutnya berubah menjadi lalat. Selanjutnya lalat akan bertelur dan ditetaskan," katanya.

Baca juga: Serah Terima Lahan Kompensasi PT BSI

Seekor lalat BSF, masih Dirga, dapat menetaskan hingga lebih dari 500 telur pada tempat yang kering. Telur lalat yang sudah menetas, satu minggu sudah tumbuh menjadi larva. Pada usia ini, mereka sangat efektif menjadi pengurai sampah. “Usianya itu tidak lama. Makanya kami mencoba membuat sentrat dari maggot yang dicampur bekatul. Komposisinya dua (maggot) banding satu (kilogram bekatul),” jelas Dirga.

Dia juga menjelaskan, bahwa larva memiliki banyak manfaat. Di antaranya mengandung kalsium, yang baik untuk tulang dan bulu hewan. Kaya omega 3 dan asam lemak untuk kesehatan. Serta mengandung asam laurat, senyawa anti mikroba untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Kelompok PEGA Indonesia juga membuka ruang diskusi dengan siapa saja tentang maggot. “Kami terbuka kepada siapa saja untuk menambah pengetahuan. Mereka bisa datang langsung ke tempat kami atau lewat instagram @bsf_pega_indonesia,” pungkas Dirga. (tim)