Selasa, 24 Feb 2026
MENU

Merawat Sumber Air Suci Jeding Yosomulyo

Sedulur, Gambiran - Di Dusun Sidomukti, di pinggir jalan utama wilayah Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi itu terdapat sebuah mata air. Meskipun jauh dari pegunungan, mata air tersebut tetap lestari hingga saat ini. Warga setempat menyebutnya Jeding.

Dalam bahasa Jawa, jeding umumnya bermakna tempat mandi atau kolam. Namun, Jeding di Yosomulyo ini bukanlah kolam biasa. Tempat ini adalah anugerah alam berupa sumber air bersih dan jernih.

"Jeding hari ini bukan hanya sekadar sumber air, tapi sudah menjadi simbol desa kami, sekaligus tempat suci untuk ritual," tutur Wagiyem, seorang warga setempat, Jumat, 13 Februari 2026.

Sejak zaman dahulu, warga sekitar memelihara sumber air ini, lanjutnya. Warga sering menggunakannya untuk air minum. Sementara itu, aliran air yang melimpah dialirkan ke sebuah kolam khusus yang digunakan untuk aktivitas mandi dan mencuci.


Baca Lainnya :

Mengingat fungsi dan nilai Jeding tersebut, atas inisiatif Bhikkhu Viriya Dharom dan naungan Yayasan Buddha Vihara Dhamma Mukti, kawasan ini dipugar dan dibangun menjadi tempat suci. 

Pembangunan yang memakan anggaran lebih dari Rp300 juta itu berhasil mempercantik area mata air. Di bagian luar, ornamen patung gandrung menghiasi dinding menghadap ke jalan. Masyarakat menamainya Gandrung Puja.

Keberadaan patung itu tak pelak mampu menghadirkan nuansa khas Banyuwangi sedangkan bangunan baru itu kental dengan nuansa Buddhisme. Hasilnya, sebuah perpaduan antara kearifan lokal Banyuwangi dan nilai-nilai spiritualitas Buddha yang berdiri menjaga mata air suci.

Saat menyusuri area Jeding, aroma dupa yang wangi langsung menyerbak. Di dinding sekitar sumur suci itu masih tampak jelas bekas-bekas bakaran dupa yang menempel. Kawasan ini tertata dengan sangat apik.

Secara umum, area ini terbagi menjadi halaman ritual dan ruang meditasi. Halaman ritual berupa sebuah pelataran terbuka yang luas untuk acara-acara ritual komunal. Sementara itu, ruang meditasi adalah beberapa ruangan kosong yang dibiarkan sunyi, khusus disediakan bagi mereka yang ingin bermeditasi dan mencari ketenangan batin.

Yang juga menonjol dari tempat ini adalah kebersihannya. Di tempat ini tidak terlihat selembar pun sampah plastik apalagi puntung rokok yang berserakan.

Sementara itu, Yuli Astutik, 44 tahun, yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari lokasi, memberikan catatan penting bagi siapa saja yang berkunjung ke Jeding.

"Tempat ini wingit (sakral/keramat). Jadi, siapa pun yang datang ke sini tidak boleh sembarangan, baik dari segi ucapan maupun perbuatan," tegasnya.

Melalui transformasi Jeding tersebut, masyarakat Sidomukti berhasil merawat warisan alam, sejarah, dan keyakinannya. Jeding bukan sekadar sisa masa lalu, melainkan monumen hidup tentang harmoni toleransi dan rasa hormat manusia terhadap alam semesta. (sdl)