Senin, 17 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Program Ternak Kambing: Potret Kreativitas Kelompok Binaan PT BSI Tingkatkan Produktivitas

Pendamping Kelompok Hari Setio Budi sedang memeriksa kambing milik Kelompok Rawa Jaya.

Sedulur, Pesanggaran – Program budi daya kambing PT Bumi Suksesindo (BSI/Perusahaan)—perusahaan tambang emas di Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk—mampu berkembang dengan pesat dan merambah penerima manfaat semakin banyak.

Program ini merupakan bagian dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang dijalankan oleh PT BSI sebagai wujud tanggung jawab sosial dan ketaatannya terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Community Relation Officer PT Bumi Suksesindo Hari Setio Budi, program ternak kambing ini berawal dari 80 ekor kambing yang diberikan oleh PT BSI kepada empat kelompok masyarakat. Setiap kelompok beranggotakan sepuluh orang.


Baca Lainnya :

Awalnya,  Perusahaan memberikan 20 ekor kambing untuk setiap kelompok dengan aturan kelompok tersebut akan memberikan indukan kambing kepada kelompok lain setelah kambingnya berkembang biak dalam masa dua tahun. Hari menyebut model pemberdayaan ini dengan istilah perguliran.

“Saat ini sudah menjadi 14 kelompok masyarakat yang mendapat guliran kambing dan beranggotakan 200-300 orang,” katanya.

Dalam program ini, PT BSI tidak hanya memberikan bantuan kambing kepada kelompok-kelompok masyarakat. Perusahaan juga bekerja sama dengan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pesanggaran untuk pendampingan kelompok, khususnya dalam penjagaan kesehatan hewan ternak.

Salah satu kelompok yang telah merasakan manfaat program budi daya kambing dari PT BSI ini adalah kelompok Rawa Jaya. Kelompok ini bermarkas di Kampung Roworejo, berjarak kurang lebih 2 kilometer dari Perusahaan. Rawa Jaya mengikuti program pemberdayaan ini sejak 2018.

“Program ternak kambing ini sangat bermanfaat bagi mayarakat sekitar. Dulu setiap anggota mendapatkan dua kambing indukan. Setelah kami rawat, kambing-kambing ini akan digulirkan kepada kelompok lain sehingga sekarang menjadi banyak. Saat ini, kelompok kami memiliki kurang lebih 670 ekor kambing dan memiliki 34 orang anggota,” kata Ketua Kelompok Rawa Jaya Sujiono.

Dalam merawat kambing-kambing ini, Rawa Jaya mencoba inovasi baru berupa fermentasi pakan. Ternyata hal ini sangat efektif. lebih gampang dibuat, dapat memenuhi kebutuhan gizi kambing, dan bisa disimpan sampai enam bulan. Untuk menjaga kesehatan seluruh kambing, pemilik setiap hari akan memeriksa satu persatu.

Selain menjadi peternak kambing, pekerjaan utama petani di Kecamatan Pesanggaran adalah membudidayakan buah naga. Kedua aktivitas tersebut memiliki hubungan yang sangat menguntungkan. Kotoran kambing bisa digunakan menjadi pupuk organik buah naga, sedangkan dedaunan dari pohon tiang penyangga buah naga menjadi pakan kambing yang digemari.

Kondisi ini juga mendorong kreativitas peternak kambing untuk berinovasi. Mereka mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan petani. Mulanya Kelompok Rawa Jaya sudah lama menjadikan kotoran kambing ini sebagai pupuk organik tanpa diolah. Ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terurai dan terserap oleh tanah. Dengan demikian, mereka mencoba untuk mengolahnya supaya bisa terurai dengan cepat dan menjadi lebih efisien.

Dalam hal ini, PT Bumi Suksesindo memberikan fasilitas untuk membuat pupuk organik secara fermentasi, yang paling utama adalah mesin penghancur kotoran kambing. Kelompok Rawa Jaya telah membuat 10 ton pupuk organik yang diolah dari kotoran kambing sejak November hingga Desember 2023. Bagi mereka, hal ini sangat bermanfaat mengingat pupuk bersubsidi, seperti NPK, urea, dan Phonska saat ini terbatas hingga langka.

Dengan menggunakan pupuk organik, Sujiono mengklaim, petani bisa menghasilkan 8-9 ton buah naga, sedangkan jika menggunakan pupuk kimia bisa menghasilkan 6-7 ton buah naga. Masa panen buah naga yang menggunakan pupuk organik dan pupuk kimia pun tidak jauh berbeda, sekitar 5-6 bulan saja setelah masa tanam.

“Dengan menggunakan pupuk organik, biaya yang dibutuhkan untuk perawatan buah naga menjadi lebih hemat dan hasilnya lebih baik. Perbandingannya tanaman buah naga dengan pupuk kimia membutuhkan Rp 2 juta per hektare, jika menggunakan pupuk organik hanya butuh Rp1 juta saja per hektare-nya. Hal ini sangat menguntungkan bagi kami. Dan kami terus memproduksi pupuk organik dan mengembangkannya hingga nanti bisa dijual ke luar daerah,” kata Sujiono. (sdl)