Sedulur, Gambiran - Sekelompok ibu-ibu terlihat sibuk di sebuah dapur terbuka. Tiga orang di antaranya menekuni penggorengan, membolak-balik irisan-irisan pisang yang terlihat mulai menguning di dalam wajan-wajan besar. Beberapa yang lain terlihat memasukkan keripik-keripik yang sudah masak ke dalam kantong-kantong plastik polos lalu merekatkan ujungnya. Tak jauh dari mereka, aneka keripik dalam kantong-kantong plastik jumbo berjajar begitu saja, nyaris memenuhi ruang dapur. Begitulah keseharian dapur Bu Sulimah, 51 tahun, di Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Sudah tujuh tahun ia membuat aneka keripik di tempat itu. Keripik buatan Bu Sulimah memang tidak bermerek, tanpa logo dan papan nama di depan rumahnya. Namun, namanya cukup tersohor di Banyuwangi. Banyak pemilik toko makanan ringan membeli keripik darinya dalam jumlah besar sehingga menurut pengakuannya, omzet harian usaha ini mencapai 5 juta rupiah dan bisa melonjak hingga empat kali lipat saat musim Lebaran tiba. Kisah sukses ini tidak bermula dari meja riset pasar, melainkan dari perjalanan anaknya, Firman, 29 tahun. Firman adalah seorang sopir logistik rute Jawa-Bali. Suatu hari pada 2019, seorang pelanggan di Bali memesan keripik ke Firman. Karena pesanan tersebut terus berlanjut, dia pun mulai berpikir untuk membuat keripik sendiri, alih-alih belanja di tengkulak, untuk memenuhinya. Firman biasanya mengambil barang dari tengkulak di Surabaya. Singkat cerita, Firman menyampaikan rencana tersebut kepada ibu dan bapaknya. Sesuai harapannya, mereka pun menyanggupi. Tak disangka, pesanan pertama itu menjadi "bola salju" yang terus membesar sampai saat ini. Kini, dapur terbukanya itu tak pernah sepi. Produknya pun merambah luas. Bu Sulimah memberdayakan sebanyak 20 orang tetangga sebagai karyawan, mulai dari tukang kupas, tukang goreng, operator mesin spinner (peniris minyak), hingga bagian pengemasan. Produknya pun beragam, tak hanya pisang, tapi juga keripik pare, lemuru, hingga sukun. Satu hal yang membuat para pedagang grosir rela antre adalah harganya yang "ugal-ugalan". Bu Nanik, seorang pemilik grosir camilan besar di Sobo, Banyuwangi, adalah salah satu pelanggan setianya. "Saya kalau ambil langsung 5 kuintal. Harganya cuma separuh harga pasar. Di sini cuma 40 ribu rupiah per kilo, padahal kalau sudah sampai pasar harganya bisa tembus 80 ribu rupiah," ungkapnya. Meski skalanya sudah masif, Bu Sulimah tetap setia dengan konsep tradisionalnya: tanpa merek, tanpa outlet, dan tanpa iklan. Pembeli datang kebanyakan karena promosi mulut ke mulut. “Keberhasilan ini bukan tentang seberapa terkenal namanya, melainkan tentang seberapa banyak dapur tetangganya ikut mengepul berkat usaha ini,” tutur Bu Sulimah. (sdl)Baca Lainnya :
