Selasa, 21 Jul 2026
MENU

Baritan Akhir Sura Jadi Simbol Kebersamaan Warga Kandangan dan Sarongan

Sedulur, Pesanggaran - Bocah-bocah bersenda gurau ringan. Para orang dewasa terlihat tenang, ada yang duduk dan ada juga yang berdiri. Tidak jauh dari mereka berposisi, puluhan nasi dan lauknya terbungkus rapat dalam kantong-kantong kresek, terhampar di atas alas terpal yang tergelar di badan jalan. 

Sore itu, Jumat, 17 Juli 2026, warga dua desa di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Kandangan dan Sarongan, menggelar baritan tutup tahun bulan Sura. Baritan tersebut digelar di lingkungan masing-masing, menempati perempatan jalan.

Menurut Kepala Desa Sarongan Gunoto, area perempatan merupakan titik pertemuan sehingga secara simbolis bermakna sebagai titik persatuan seluruh warga tanpa membedakan latar belakang.

Dalam acara baritan ini, masyarakat bukan hanya berkumpul dan makan-makan, tetapi juga memanjatkan doa bersama. Melalui doa yang dipimpin tokoh agama, imam kampung, dan sesepuh desa tersebut, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat selama setahun. Mereka juga memohon agar seluruh masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan rezeki, dijauhkan dari berbagai musibah, dan hidup dalam kerukunan.


Baca Lainnya :

Tradisi Baritan merupakan salah satu kearifan lokal yang masih terjaga kuat di wilayah Pesanggaran, khususnya di Sarongan dan Kandangan. 

"Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat semangat gotong royong, serta menjaga keharmonisan antarmasyarakat di tengah perkembangan zaman,” ujar Gunoto.

Ia menegaskan bahwa baritan bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi sarana mempererat persaudaraan, memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus memohon agar masyarakat Desa Sarongan selalu diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan. 

“Kami berharap generasi muda terus melestarikan budaya luhur ini sebagai bagian dari jati diri masyarakat," ujar Gunoto.

Senada dengannya, Kepala Desa Kandangan Riyono menegaskan bahwa pelaksanaan baritan di setiap penghujung Sura merupakan simbol kuat kebersamaan masyarakat sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang tetap selaras dengan ajaran agama.

"Tradisi ini mengajarkan gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur. Seluruh warga berkumpul, berdoa bersama, lalu menikmati hidangan secara sederhana. Nilai yang paling penting adalah mempererat persatuan dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat," kata Riyono.

Sementara itu, tokoh agama K.H. Ahmad Khozin menjelaskan bahwa selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka budaya lokal seperti baritan dapat menjadi media mempererat ukhuah Islamiyah sekaligus memperkuat nilai-nilai keimanan.

"Baritan yang diisi dengan doa bersama, rasa syukur kepada Allah SWT, serta mempererat silaturahmi merupakan tradisi yang memiliki nilai positif. Yang terpenting adalah niatnya tetap sebagai bentuk ibadah, memohon perlindungan kepada Allah SWT, serta memperkuat persaudaraan antarsesama. Budaya yang baik seperti ini perlu dijaga karena mengandung nilai kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong," tutur K.H. Ahmad Khozin.

Setelah rangkaian doa selesai, warga menyantap hidangan bersama dengan gembira. Mereka juga terlihat saling bertukar makanan.

Riyono menambahkan, baritan akhir bulan Sura bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini menjadi momentum refleksi diri untuk mengakhiri Suro dengan memperbanyak doa, mempererat hubungan sosial, serta memohon agar kehidupan pada masa mendatang dipenuhi kedamaian, keselamatan, kesehatan, dan keberkahan.

Kedua kepala desa terlihat gembira dengan terlaksananya tradisi ini. Mereka beranggapan, pelaksanaan baritan secara serentak di dua desa tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal masih hidup dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga. 

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini tetap menjadi simbol harmonisasi antara budaya, nilai-nilai religius, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat.

Melalui pelestarian baritan ini, Riyono dan Gunoto berharap masyarakat Desa Sarongan dan Kandangan tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mewariskan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial kepada generasi muda agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya di masa depan. (gil)