Sedulur, Gambiran - Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, ketika para pegawai menikmati hari liburnya, Muhammad Yusuf Taufikillah justru sibuk di tempat kerjanya, sebuah kumbung jamur di Dusun Bulusari, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Kumbung itu berupa bangsal tanpa dinding berukuran 3 x 6 meter yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ribuan kantong jamur (baglog) menumpuk rapi di atas rak-rak yang terbuat dari baja ringan (galvalum). Yusuf terlihat sedang menyemprot kantong-kantong jamur itu dengan selang air yang ada di tangannya. “Saat ini, saya mengelola sekitar 12.000 baglog jamur,” ucap Yusuf. Langkah Yusuf di dunia agribisnis tidak terjadi dalam semalam. Pemuda 27 tahun tersebut memulai perjalanannya melalui kerja sama dengan rekan-rekan sejawatnya. Namun, dorongan untuk berkembang lebih jauh membuatnya berani memijakkan kaki di jalur mandiri sejak dua tahun lalu. Sejak saat itu, Yusuf menjalankan program kemandirian ekonomi dan gotong royong versinya: budi daya jamur tiram putih. Usaha Yusuf berkembang dengan baik. Dengan kapasitas produksi yang besar, ia dapat meraup omzet hingga Rp10 juta per bulan. Ia juga mempekerjakan dua orang karyawan harian tetap. Siang hari ia habiskan untuk mendistribusikan hasil panen langsung kepada para tengkulak. Menjelang sore, rutinitasnya berpindah ke kumbung—menyiram dan memastikan kelembaban suhu agar jamur tumbuh optimal. Keuletan Yusuf diapresiasi oleh tetangga dan sahabat-sahabatnya. "Saya mengikuti perjuangan Yusuf benar-benar dari nol. Luar biasa melihatnya sekarang sudah punya pegawai dan usahanya stabil," ujar Bayu, 27 tahun, sahabat karib Yusuf yang hampir setiap hari berkunjung ke kumbung. Menurut Bayu, kunci sukses Yusuf terletak pada sifatnya yang sangat rajin dan telaten dalam merawat setiap detail budi daya. Budi daya jamur yang dijalankan Yusuf bukan sekadar menanam, lalu memanen. Ia menerapkan teknik kultur jaringan untuk menjaga kualitas komersial produknya. Ia selalu menjaga kumbungnya tetap steril. Tidak hanya membesarkan jamur, Yusuf juga memperbanyak sendiri bibit jamurnya. Ia memanfaatkan batang jamur segar sebagai indukan (starter). Proses ini bertujuan membiakkan miselium ke media tanam steril berupa serbuk kayu. Dalam proses yang membutuhkan ketelitian tinggi ini, Yusuf tidak sendirian. Ia bahu-membahu bersama sang ayah. Selain untuk memenuhi kebutuhan kumbungnya, ia juga menjual baglog bibit yang sudah jadi. Saat memasuki fase pembuatan bibit massal, Yusuf biasanya menambah tenaga kerja harian untuk mempercepat proses produksi agar permintaan pasar tetap terpenuhi. Jamur dari kumbung Yusuf terkenal berkualitas. Ninik Finalita, 27 tahun, seorang pelanggan setia yang setiap hari mengambil pasokan jamur, menyebut jamur tiram milik Yusuf bersih dan segar. Selain itu, meski harga plastik pengemas melonjak di pasaran, Yusuf memilih untuk tidak menaikkan harga jualnya. "Kualitas jamurnya selalu baik. Yang saya salut, harganya tetap stabil walau biaya produksi seperti plastik naik," ungkap Ninik. (sdl)Baca Lainnya :
