Minggu, 25 Jan 2026
MENU

Kerupuk Gombal Andal dari Bangorejo

Sedulur, Bangorejo - Deretan nyiru bambu berbaris rapi di halaman sebuah rumah, menopang kerupuk mentah yang tengah menjemput kering. 

Matahari sangat bersahabat hari itu, 4 Januari 2026, memancarkan sinarnya yang terik. Seorang perempuan paruh baya terlihat memeriksa kerupuk-kerupuk tersebut.

Perempuan itu, Ida Ilmiaturrofiqoh, adalah pembuat kerupuk-kerupuk tersebut. Dia menyebutnya kerupuk gombal–di tempat lain sering disebut dengan nama berbeda, seperti kerupuk ser, kerupuk beras, hingga kerupuk kathok.

Ida memulai usaha ini pada tahun 2020. Saat pandemi COVID-19 melumpuhkan banyak sektor ekonomi, Ida mengambil langkah berani dengan memproduksi kerupuk beras di rumahnya di Desa Kedungrejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. 


Baca Lainnya :

Ia melibatkan anggota keluarganya untuk bahu-membahu menjalankan roda bisnis ini. Berkat kerja sama ini, usahanya pun mampu bertahan hingga saat ini bahkan berkembang. Ida mengaku mampu mengolah 6 hingga 10 kilogram bahan baku setiap harinya.

"Produksi kami sangat mengandalkan sinar matahari. Jika cuaca cerah, kami bekerja maksimal," ujarnya.

Namun, ritme kerja tersebut akan berubah drastis saat memasuki bulan puasa Ramadan hingga menjelang Lebaran. Masa ini, permintaan pelanggan melonjak sehingga kapasitas produksinya juga meningkat hingga melampaui 10 kilogram per hari.

Meskipun demikian, Ida mengeklaim tetap menjadi kualitas kerupuk gombal buatannya. Ia menolak penggunaan bahan pengawet dan memilih bahan-bahan berkualitas tinggi untuk menjaga cita rasa asli. 

Seiring berjalannya waktu, Ida juga mengembangkan pilihan rasa kerupuknya. Selain rasa orisinal, ia juga menawarkan varian rasa ketumbar dan ebi.

Namun, ia hanya memproduksi dua varian tersebut apabila ada pesanan dari pelanggan. Alasannya adalah untuk memastikan pembeli selalu mendapatkan kerupuk dengan kualitas bumbu yang masih kuat dan segar.

Kualitas kerupuk gombal Bu Ida ini juga mendapatkan perhatian dari mahasiswa Universitas Ibrahimy Genteng yang sedang observasi UMKM di wilayah Kecamatan Bangorejo. Cerly Nadila Putri Angga dan temannya yang tak mau disebutkan namanya, memilih kerupuk Bu Ida atas rekomendasi warga sekitar.

Cerly mengaku suka kerupuk Bu Ida karena tidak merasakan zat penguat rasa di dalamnya. Dalam kesempatan tersebut, mereka juga membeli kerupuk Bu Ida untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang ke rumah.

“Seperti kerupuk zaman kakek dan nenek kita dulu,” katanya ketika mencicipi krupuk gombal itu.

Kabar gembiranya lagi, Ida hanya mematok harga Rp12 ribu untuk varian orisinal mentah kemasan 500 gram dan Rp13 ribu untuk varian rasa ketumbar dan ebi mentah kemasan 500 gram. (sdl)