Minggu, 9 Agustus 2020

Minhajussalikin dan Dakwah Islam di Pesanggaran

: :

Model Pembelajaran Guling, Pilihan di Tengah Pandemi

Model pembelajaran di sekolah berubah drastis sejak pandemi Covid-19 melanda. Pemerintah melarang semua sekolah dari jenjang TK sampai perguruan tinggi mengadakan model pembelajaran tatap muka di kelas.

Pawon Bu Atim, Penuhi Selera Masakan Rumahan

Sebagai daerah wisata, Desa Sumberagung juga menawarkan ragam kuliner yang lezat. Salah satu tempat makan di Sumberagung yang menawarkan selera masakan rumahan adalah Pawon Bu Atim.

Potensi Wisata Baru di Kandangan: Puncak Surga

Pemerintah Desa Kandangan terus berupaya mengembangkan potensi wisata di wilayahnya. Yang terbaru adalah wisata alam Puncak Surga yang terletak di Dusun Sumberdadi, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Membincang soal dakwah Islam di Pesanggaran tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh seperti Kiai Khoirun dan KH. Fathul Mubin Amirullah. Kiai Khoirun adalah pendiri Masjid Jami’ Roudlotul Huda, sedangkan Kiai Mubin adalah pengasuh Pondok Pesantren (PP) Minhajussalikin.

Masjid Jami’ Roudlotul Huda Dusun Ringinmulyo, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi didirikan oleh Kiai Khoirun pada tahun 1962. Orang lebih mengenal daerah ini dengan sebutan Kaligonggo.

Istri mendiang Kiai Mubin, Nyai Titik Wahinatun yang juga cucu dari Kiai Khoirun, bercerita mengenai perjuangan kedua tokoh tersebut dalam dakwah Islam kepada Sedulur. “Pertama kali saya datang (1972), tempat ini masih sepi,” kenang Nyai Titik membuka ceritanya.

Menurut Nyai Titik, sang pendiri masjid, Kiai Khoirun, berasal dari daerah Bagelen, sebuah daerah yang tercatat dalam sejarah Mataram kuno. Letaknya berada di wilayah Purworejo, Jawa Tengah.

Kiai Khoirun merupakan salah satu orang yang membuka lahan di daerah Kaligonggo ini. Dia dikenal sebagai orang yang giat dalam bekerja. Sehingga, tidak mengherankan apabila dia memiliki tanah yang sangat luas.

KH. Fathul Mubin

Harta yang banyak tidak membuat Kiai Khoirun lupa pada agamanya. Dengan hartanya itu, dia medirikan sebuah masjid sebagai pusat beribadah dan berdakwah di daerah tersebut.

“Pembangunan masjid ditanggung oleh Mbah Khoirun. Warga dimintai batuan tenaganya,” kata Nyai Titik.

Pada saat itu, kegiatan pengajian di Roudlotul Huda diasuh oleh Kiai Mukijab dan kemudian dilanjutkan oleh Kiai Kaseran. Kegiatan pengajian masih terbatas dan pesertanya masih sedikit.

Pada tahun 1972, Kiai Mubin yang baru menikahi Nyai Titik datang. Kedatangan pasangan pengantin baru ini ke Roudlotul Huda atas permintaan KH. Muchtar Syafaat Abdul Ghofur, pengasuh PP Darussalam Blokagung.

Kiai Mubin memang mendalami pendidikan Islam di Blokagung di bawah bimbingan Kiai Syafaat. Setelah menikah, dia diminta oleh gurunya tersebut untuk pindah ke wilayah Pesanggaran. Baginya, permintaan dari sang guru merupakan sebuah misi yang wajib dilaksanakan.

Dia pun pindah ke Pesanggaran dan menempati rumah Kiai Khoirun. “Seandainya saya diminta bermukim di bawah jembatan, akan saya laksanakan kalau yang meminta Kiai Syafaat,” kata Nyai Titik menirukan Kiai Mubin waktu itu.

Ada sedikit cerita menarik seputar nama Nyai Titik. Sebenarnya, nama asli Nyai Titik adalah Istianah. Ketika tahu kalau Nyai Titik tinggal dan berjuang di Pesanggaran, Kiai Syamsudin, tokoh agama saat itu, mengganti namanya menjadi Titik Wahinatun.

Menurut Nyai Titik, perubahan nama ini untuk membekali perjuangannya di daerah baru. “Menurut Kiai Syamsudin, berjuang di wilayah selatan itu berat,” tuturnya.

Sejak kedatangan Kiai Mubin, kegiatan pengajian di Roudlotul Huda semakin giat dan ramai. Kematangan dan kedalaman ilmu agamanya menjadi daya tarik warga untuk mengikuti pengajian-pengajiannya.

Untuk menampung minat masyarakat ini, Kiai Mubin dengan dibantu oleh warga sekitar mendirikan lembaga pendidikan Islam bernama PP Minhajussalikin pada tahun 1973. Di awal pendiriannya, hanya ada sebuah gotakan (asrama) sederhana untuk santri.

“Dulu ada asrama kecil di sebelah masjid. Rumah pun masih jarang di daerah sini,” kenang Nyai Istianah.

Solikhin Yahya, salah seorang santri Kiai Mubin turut memberikan kesaksian mengenai kiprah kiai bersahaja ini. Menurut lelaki 60 tahun ini, Kiai Mubin termasuk orang yang kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Pernah suatu hari, cerita Solikhin, jalan umum di dekat pondok ditanami warga. Sehingga, saat jalan tersebut dibangun, pemilik tanaman marah karena tanamannya harus dibongkar. Santri dan warga yang bekerja memperbaiki jalan itu pun tidak berani melanjutkan. Kemudian datanglah Kiai Mubin dengan kesabarannya menberikan pemahaman, sehingga kegiatan perbaikan dapat dilanjutkan.

Menurut Solikhin, Kiai Mubin dikenal sangat konsisten dan disiplin dalam berdakwah. “Dalam keadaan apa pun, setiap ada jadwal (mengaji) pasti berangkat,” katanya.

Selain mengajar para santri di PP Minhajussalikin, Kiai Mubin juga aktif di masyarakat. Dia membentuk forum pengajian dan istighotsah Selosoan (dilaksanakan setiap hari Selasa) di beberapa tempat; Selasa siang bertempat wilayah Desa Pesanggaran, sedangkan pada malam Selasa bertempat di wilayah Desa Sumberagung.

“Sejak sekitar tahun 1974 atau 1975 hingga wafatnya, beliau selalu hadir di pengajian tersebut. Beliau datang dengan menaiki sepeda kayuh sederhana,” lanjut Solikhin.

KH. Khoirun

Meskipun Kiai Mubin telah tiada, namun forum Selosoan masih bertahan hingga saat ini. Tugasnya dalam berdakwah kini digantikan oleh salah seorang menantunya, Kiai Imam Syafaat.

Meskipun berilmu tinggi, Kiai Mubin tetap mengedepankan ketinggian budi pekerti dalam berdakwah. Dia dikenal sebagai kiai yang sabar menghadapi masyarakat yang beragam. Hal-hal yang berkaitan dengan hukum tidak disampaikannya secara frontal, namun secara bertahap melalui forum-forum pengajian. Sehingga, dakwah Islam yang dilakukannya terasa damai.

Meskipun telah menjadi seorang tokoh agama yang berpengaruh di Pesanggaran, aktivitas sehari-hari Kiai Mubin pun sama seperti umumnya warga di sekitar Kaligonggo. “Kiai juga bertani seperti warga lainnya,” terang Solikhin.

Kiai Mubin meninggal dunia pada bulan April 2009 dalam perjalanan pulang dari Jambi untuk menyampaikan pengajian di sana. Dalam perjalanan pulang, Kiai Mubin jatuh sakit dan harus dirawat di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah.

Ketika keadaan mulai membaik, dia melanjutkan kembali perjalanannya. Namun, sesampainya di Jember dia harus kembali dirawat di rumah sakit. Setelah beberapa waktu, pihak keluarga memindahkannya ke sebuah rumah sakit di Genteng, Banyuwangi dan meninggal di sana.

Sejak kehadiran Kiai Mubin, banyak terjadi perubahan budaya di tengah-tengah masyarakat. Kiai Mubin meninggalkan tiga orang anak, yaitu Indriyati Siti Bariroh, Agus Arwani, dan Hazimul Imron. Dia juga meninggalkan beberapa lembaga pendidikan untuk melanjutkan perjuangannya, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Roudlatul Huda, Taman Kanak-kanak Roudlatul Huda, Madrasah Diniyah Roudlatut Tholibin, dan Taman Pendidikan Al-Quran Minhajussalikin.

Berkat konsistensi dan keikhlasan tokoh-tokoh ini, Minhajussalikin menjadi salah satu rujukan pendidikan Islam di Pesanggaran. Untuk menghargai jasa-jasa mereka dalam dakwah Islam dan sosial, masyarakat mengadakan pengajian haul setiap tahunnya. (mam)

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Model Pembelajaran Guling, Pilihan di Tengah Pandemi

Model pembelajaran di sekolah berubah drastis sejak pandemi Covid-19 melanda. Pemerintah melarang semua sekolah dari jenjang TK sampai perguruan tinggi mengadakan model pembelajaran tatap muka di kelas.

Pawon Bu Atim, Penuhi Selera Masakan Rumahan

Sebagai daerah wisata, Desa Sumberagung juga menawarkan ragam kuliner yang lezat. Salah satu tempat makan di Sumberagung yang menawarkan selera masakan rumahan adalah Pawon Bu Atim.

Potensi Wisata Baru di Kandangan: Puncak Surga

Pemerintah Desa Kandangan terus berupaya mengembangkan potensi wisata di wilayahnya. Yang terbaru adalah wisata alam Puncak Surga yang terletak di Dusun Sumberdadi, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Ganti Profesi, Pantang Menyerah Gegara Wabah

Ganti profesi atau pekerjaan itu adalah sesuatu yang lumrah. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah karena berbagai alasan.

Menjadi Ibu untuk Anak-anak dan Lingkungan

Hidup bahagia selamanya merupakan harapan kedua mempelai saat melaksanakan pernikahan. Menjadi ibu dan ayah untuk anak-anaknya. Tidak ada yang mengharapkan perselisihan selama menjalani kehidupan berumah tangga, apalagi sampai berakhir perceraian.

Baca Juga: