Jumat, 24 Mei 2024
MENU
Waisak 2024

Umat Hindu Pesanggaran Gelar Upacara Tawur Agung Kesanga

Sedulur, Pesanggaran - Setelah upacara Melasti, umat Hindu di Kecamatan Pesanggaran mengadakan upacara Tawur Agung Kesanga, Sabtu, 13 Maret 2021. Selain itu, juga ada perayaan ogoh-ogoh.

Salah satu pura yang menyelenggarakan upacara ritual tersebut adalah pura Tirta Purwa Buana Desa Pesanggaran. Upacara Tawur Agung Kesanga mulai berlangsung sekitar pukul 13.00.

Baca juga: Alhamdulillah, Warga Rajegwesi Bisa Jumatan Lagi di Nurul Islam

Namun, pelaksanaan upacara kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat Hindu yang biasanya beramai-ramai mengikuti acara ini tidak mengikuti jalannya ritual hari ini.


Baca Lainnya :

Panitia membatasi jumlah peserta. Hanya yang muda-muda saja yang ikut. Itu pun dengan jumlah terbatas dan protokol kesehatan yang ketat. Tujuannya, agar tidak terjadi klaster baru penularan COVID-19.

Upacara Tawur Agung Kesanga (Pecaruan Agung) merupakan prosesi yang digelar sehari sebelum perayaan Nyepi. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan bumi; ungkapan terima kasih terhadap bumi.

Lanjut ke halaman berikutnya...

"Kita banyak berhutang pada bumi ini," kata Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pesanggaran, Nyoman Pageh Yasa.

Nyoman lebih lanjut menuturkan bahwa bumi selalu memberikan hasilnya untuk umat manusia. Ia tidak pernah meminta timbal balik. Pada hari ini, umat Hindu belajar untuk memberikan penghormatan dan penyucian dengan persembahan yang bernama caru atau harmonis.

Baca juga: Koramil Pesanggaran Kunjungi Sekolah Pastikan Penerapan Protokol Kesehatan

"Kalau bumi ini harmonis, ada kedamaian yang bisa kita nikmati," katanya.

Menurut Romo Pemangku Pura Tirta Purwa Buana Desa Pesanggaran ini, manusia harus menjaga Tri Hita Karana. Manusia harus menyelaraskan hubungan dengan tiga elemen: manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

"Kalau kita bisa menjaga hubungan baik dengan tiga elemen tersebut, itulah kebaikan yang sebenarnya," tuturnya menjelaskan.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Upacara dimulai dengan pembacaan kidung suci. Kemudian, Romo Mangku Saimo, salah satu tokoh Hindu Pesanggaran, memimpin pembacaan doa-doa. Seorang sarati tampak setia membantu kebutuhan upacara.

Aroma harum dupa menyeruak memenuhi plataran pura. Asap tipis dupa yang terbakar membumbung dan segera tersapu angin. Peserta yang rata-rata kaum muda itu tampak mengikuti jalannya ritual dengan takzim.

Baca juga: Sucikan Diri dan Alam Semesta, Umat Hindu Banyuwangi Gelar Melasti

Selesai pembacaan doa, para pemuda menerima air suci dari sang romo. Air itu berasal upacara Melasti sebelumnya. Sebentar kemudian, mereka bergerak memanggul ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh itu berwujud patung besar berwajah menyeramkan.

Mereka lalu mengarak patung tersebut di jalan sekitar pura. Ada dua ogoh-ogoh yang diarak. Sambil memanggul, para pemuda menari dengan iringan musik ganjur. "Ini merupakan ogoh-ogoh tahun lalu yang belum dibakar," ungkap sekretaris Yayasan Purwa Dharma Pesanggaran, Andik Purnomo.

Ogoh-ogoh merupakan perwujudan hawa nafsu manusia. Itulah mengapa dia digambarkan dengan sosok yang besar dan menyeramkan. 

Lanjut ke halaman berikutnya...

Setelah diarak, ogoh-ogoh kemudian dibawa ke ladang milik pemangku untuk dibakar. Sesuai filosofi Hindu, ogoh-ogoh bermula dari tidak ada menjadi ada kemudian kembali tidak ada.

"Kalau rusaknya tidak dibakar [rusak karena lapuk], ini tidak sesuai dengan filosofi pembuatan ogoh-ogoh," ucap Andik. 

Menariknya, dalam rombongan ini, sebagian pemuda membawa sapu dan kantong sampah. Mereka bertugas khusus untuk membersihkan jalan-jalan yang dilalui ogoh-ogoh. Hal ini merupakan rangkaian Tawur Agung Kesanga, yaitu membersihkan bumi. Pukul empat sore, umat Hindu menyudahi rangkaian upacara suci ini. (ala)