Selasa, 23 Jul 2024
MENU
Waisak 2024

Tertukarnya Nama Gumuk Kancil dengan Gumuk Mantri

SEBUAH bukit kecil berdiri kokoh di pinggiran kampung. Sebagian punggung bukit itu dibiarkan kosong. Hanya rerumputan yang tumbuh menyelimutinya. Pohon Sambi dan Akasia juga tumbuh di sana. Meskipun tidak terlalu lebat, sudah bisa menjadi tempat berlindung dari sengatan sinar matahari siang itu, Rabu, 18 November 2020.

Di sisi yang lain, tanaman singkong yang ditanam warga tumbuh dengan subur. Begitu juga dengan tanaman buah naga. Warga menanam di sini dengan sistem sewa kepada pemerintah desa.  

Baca juga: Sepenggal Cerita Tsunami Pancer

Angin yang berhembus pelan mampu menggoyang daun-daun singkong di hamparan tersebut, sedikit mengusir hawa panas siang itu. Dari atas bukit ini, hamparan sawah di wilayah Desa Pesanggaran dan Sumbermulyo terlihat menghijau.


Baca Lainnya :

Bukit kecil—dalam bahasa Jawa disebut gumuk—itu berlokasi di Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Warga mengenalnya dengan nama Gumuk Kancil.

Lahan ini juga pernah disewa oleh CV Lentara Swadaya untuk usaha ternak oleh selama satu periode jabatan kepala desa. Tapi, usaha tersebut sekarang sudah tutup.

Menurut penuturan Mbok Sijum, 80 tahun, gumuk tersebut sebenarnya bernama Gumuk Mantri. Nama tersebut masih berkaitan dengan seorang mantri kesehatan bernama Buhu. Dia adalah orang Belanda yang tinggal seorang diri di puncak bukit. Kehidupannya sedikit tertutup. Di sekitar gumuk belum banyak rumah penduduk. Konon, Buhu sengaja mengasingkan diri.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Pada waktu itu, area sekitar Gumuk Kancil masih berupa hamparan persawahan yang luas. “Saya juga tinggal di tempat tersebut. Kita bertetangga. Tapi, saya kan masih kecil. Jadi, tidak banyak tahu tentang dirinya,” kata Mbok Sijum bercerita.

Mantri Buhu sendiri dalam kesehariannya tidak berbeda jauh dengan kehidupan warga yang mendiami tempat tersebut. Entah apa penyebabnya, ia meninggalkan Gumuk Kancil. Konon, Buhu pindah ke kawasan hutan Petak 56, Ringinagung, Pesanggaran. Dan sejak saat itu, tidak diketahui lagi kabar beritanya.

Baca juga: Masjid Ringinagung Pernah Ambruk Diterjang Badai

Namun, bukan berarti hal yang terkait dengan mantri tersebut hilang begitu saja. Warga menyebut bukit yang pernah ditempatinya dengan nama Gumuk Mantri.

Sementara itu, di sebelah selatan Gumuk Mantri, juga ada sebuah bukit kecil yang dikenal dengan nama Gumuk Kancil. Di lokasi tersebut, saat ini, berdiri gedung SMPN 2 Pesanggaran.

Mbok Sijum mengaku tidak tahu mengapa orang tidak lagi mengenal nama Gumuk Mantri. “Namanya tertukar, yang mestinya disebut sebagai Gumuk Mantri dinamakan Gumuk Kancil,” ungkapnya.

Baca juga: Asal-usul Nama Rajegwesi

Gumuk Mantri—yang sekarang disebut Gumuk Kancil—merupakan Tanah Kas Desa (TKD) Sumberagung. Sejak Desa Sumberagung dimekarkan, separuh dari tanah tersebut menjadi aset milik Desa Sumbermulyo—desa hasil pemekaran dari Sumberagung.

Untuk menambah Pendapatan Asli Desa (PAD), pemerintah mengizinkan warga menempati atau menggarap lahan TKD Gumuk Kancil dengan syarat membayar uang sewa ke pemerintah desa. (bay)