Selasa, 18 Jun 2024
MENU
Waisak 2024

Titik Balik Teddi, Bekerja dengan Hati

SINAR matahari pagi baru saja merekah, menerobos rumah-rumah warga di Griya Asri Pesanggaran. Seorang lelaki sedang menyiapkan perlengkapan kerjanya: motor, gerobak, sepatu bot, dan sarung tangan. Secangkir kopi buatan istrinya masih tersisa separuh, dia sengaja menyisakannya dan akan meminumnya selepas kerja hari itu. Setelah semua siap, dia pun berangkat untuk mengambil dan mengangkut sampah di area perumahan dan sekitarnya, Senin, 12 Oktober 2020.

Teddi Djumhadi, 35 tahun, sudah empat tahun menjalani pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. Pria kelahiran Lebak Banten ini meninggalkan kampung halamannya sejak tahun 2010 untuk menjadi petugas satuan pengamanan (Satpam) di sebuah perusahaan pertambangan di Tumpang Pitu yang saat itu dikelola oleh PT Indo Multi Niaga.

Baca juga: Nasywa Hasyim Merintis Prestasi

Statusnya sebagai karyawan tetap berubah menjadi karyawan kontrak ketika terjadi peralihan kepemilikan pengelola proyek di Tumpang Pitu dari Indo Multi Niaga kepada PT Bumi Suksesindo. Sejak saat itu, ia dan teman-temannya menjadi Satpam Bumi Suksesindo di bawah naungan PT Demitra Karsa Perdana (DKP)—perusahaan pemenang tender penyedia jasa pengamanan di site Tumpang Pitu periode 2012-2016.


Baca Lainnya :

titik balik 1
Teddi memasukkan sampah dari area perumahan Griya Asri Pesanggaran ke dalam gerobaknya.

Tahun 2016, Teddi harus menerima nasib buruk. Dia terpaksa kehilangan pekerjaannya karena DKP kalah tender dan upayanya bergabung dengan perusahaan pengamanan baru pun gagal. Hasil pemeriksaan kesehatannya tidak memenuhi syarat. 

Nasib yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Padahal, dia baru saja menikahi Triyetti Widyaningsih, seorang wanita yang pernah bekerja di kantor yang sama dengannya. Naasnya, di waktu yang hampir bersamaan, Yetti juga kehilangan pekerjaannya.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Seperti sebuah ungkapan “untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak", begitulah nasib yang harus dihadapi oleh pasangan yang usia pernikahannya baru seumur jagung itu. Mereka tidak menyerah. Upaya melamar pekerjaan baru terus mereka lakukan, tapi tidak ada satu pun yang berhasil.

Di tengah kekalutan dan kebingungan, Teddi berusaha bangkit, berusaha mencari pekerjaan baru untuk menopang kebutuhan keluarga barunya. Sayang, nasib baik belum berpihak kepadanya. "Sungguh pengalaman hidup yang tidak terlupakan," katanya, "beruntung istriku bisa memahami keadaan."

Baca juga: Mustofa Tetap Mengukir Juga Melukis

Maka, ketika ada peluang menjadi petugas kebersihan di lingkungan perumahan yang menjadi tempat tinggalnya, dia pun langsung mengambilnya. Ia mengisahkan, awalnya merasa rikuh, bingung bagaimana harus menjalaninya. "Berhenti jadi satpam malah jadi pemungut sampah," katanya.

Setelah mempertimbangkan baik buruknya, Teddi akhirnya bisa berdamai dengan egonya. Dia pun menjalani pekerjaan barunya itu dengan semangat. Pekerjaan inilah yang akhirnya menjadi titik balik hidupnya. "Yang penting keluarga baik-baik saja," ujarnya.

Teddi berkeliling mengambil sampah di rumah-rumah warga seminggu tiga kali. Pekerjaan itu tidak sampai satu hari penuh. Sekitar pukul 10 siang dia sudah pulang ke rumahnya. Waktu itu, dia mendapat upah Rp15.000 per bulan untuk masing-masing rumah yang menjadi pelanggan jasanya.

Kini, upah yang dia terima meningkat menjadi Rp25.000 per bulan untuk masing-masing rumah. “Untuk ruko bisa Rp35-50 ribu. Belum lagi kalau ada yang punya hajatan, biasanya mereka memberi Rp100 ribu,” katanya. Dengan bertambahnya jumlah pelanggan, dia kemudian memperkerjakan dua orang untuk membantunya, yakni Handoko dan Pak Mo. Kedua orang ini mendapatkan gaji setiap bulanannya.

Untuk mengisi waktu luang, Teddi sendiri berupaya mengembangkan bisnisnya dengan menjual barang-barang elektronik dengan cara kredit. Ayah dari Zaskia Sahara dan Zidni Nafi ini mengaku bisa lebih fokus pada bisnis elektronik dengan adanya dua orang yang membantunya tersebut.

Baca juga: Jalan Pelik Pembalap Cilik

Tidak mau tinggal diam, istrinya juga aktif membantu memasarkan barang-barang dagangan suaminya secara daring. “Yang penting kerja dengan hati. Alhamdulillah sudah bisa membeli sebuah rumah di daerah Genteng,” kata Teddi senang.

Meskipun sibuk dengan urusan pekerjaan, Teddi masih menyempatkan diri beraktivitas di masjid area perumahan, Masjid Hidayatulloh. Ia mengajari mengaji anak-anak perumahan dan sekitarnya. Ada kurang lebih 70 anak yang mengaji di masjid tersebut setiap hari. (bay)