ayam pedas mbok jo
114 views

Ayam Pedas Mbok Jo Sumberagung yang Melegenda

RASANYA itu, lo, beda. Bumbunya terasa rempah-rempahnya,” begitu kata Utami, wanita asal Surabaya yang mengaku pelanggan warung ayam pedas Mbok Jo. Hal itu tentunya selain rasa pedas menggigit yang jadi ciri khas masakan ini.

Warung ayam pedas Mbok Jo berdiri sejak 1995. Demikian keterangan dari Sumarmi, istri dari Bejo Handoyo, pendiri warung tersebut. Warung Mbok Jo berada di Jalan Sukamade, Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Sebelum memutuskan untuk membuka usaha warung makan, Bejo Handoyo dan Sumarmi bekerja sebagai buruh tani. Lantaran merasa semakin tua, tenaga tidak sekuat semasa muda, suami istri ini berinisiatif membuka warung. 

“Dulu aku mikir tidak punya sawah, tidak tahu lagi mau kerja apa selain jualan nasi,” kata Sumarmi yang akrab dipanggil Mbok Jo.

Baca juga: Mencicipi Rujak Soto di Muara Mbaduk

ayam pedas mbok jo 1
Warung ayam pedas Mbok Jo Silirbaru, Sumberagung, Pesanggaran.

Masa-masa awal buka warung, mereka menjual berbagai menu, seperti ayam pedas, pecel, lodeh, es cendol dawet, dan menu lainnya. Lama-kelamaan mereka kewalahan karena harus menyiapkan bermacam-macam masakan setiap hari. 

Mbok Jo mulai mengurangi menu di warungnya satu per satu. Dia beralasan, tenaganya sudah tidak mumpuni lagi. Sampai saat ini, warung Mbok Jo hanya menyediakan menu ayam pedas saja.

Sumarmi mengakui tidak mudah mencari pelanggan. Dulu, sehari hanya laku satu ekor ayam saja. Namun, dia tidak menyerah. Dia konsisten mempertahankan rasa ayam pedasnya. Pelanggan mulai berdatangan. Semakin lama semakin banyak. Dan, kini warung ayam pedas ini bisa menghabiskan 22 ekor ayam dalam sehari. 

Pelanggannya pun datang dari berbagai penjuru nusantara mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jakarta, Surabaya, dan daerah lainnya. Tak heran jika warung Mbok Jo ini setiap hari ramai. Sehari bisa mencapai 80 sampai 100 pelanggan yang datang, katanya.

Baca juga: Limbah Kayu Jadi Lahan Karya

Empat tahun lalu, Bejo meninggal dunia. Dari saat itu hingga sekarang, Sumarmi mengelola warung sendiri. Ada seorang karyawati yang setiap hari membantunya. “Aku, ya, pengennya warung ini tetap ada, diteruskan sama anak cucuku, bahkan sampai generasi berikutnya,” kata wanita berambut putih itu. 

Setiap subuh, wanita berusia 61 tahun itu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak ayam pedasnya. Dia juga menyalakan api di tungku. Sebuah wajan besar nangkring di atas tungku itu.

Rasa pedas masakannya berasal dari cabai rawit. Per hari, Sumarmi menghabiskan empat kilogram cabai rawit. Meskipun pedas, cita rasa rempah-rempah masih kuat terasa. “Saya tidak pernah pakai micin,” katanya.

Warung buka setiap hari mulai pukul tujuh pagi hingga lima sore. Namun, baru-baru ini ada menu baru selain ayam pedas, yakni lalapan. Harga per porsi ayam pedas 15 ribu rupiah dan lalapan 30 ribu rupiah per porsinya.

Baca juga: Batik Kinnara-Kinnari, Buah Karya Warga Sumberagung

“Ayam pedas Mbok Jo ini ngangenin. Saya jauh-jauh dari Surabaya kalau lagi ke Banyuwangi pasti mampir ke sini,” kata Utami, salah satu pelanggan warung Mbok Jo. “Kadang saya nitip untuk dibawakan ke Surabaya.”

Selain setiap hari buka warung, Mbok Jo juga melayani pesanan nasi kotak lalapan dan ayam pedas dalam jumlah banyak. Kalau pelanggan malas untuk pergi ke warung, bisa juga menggunakan layanan pesan antar melalui waruung.com atau kurir lainnya. Jadi, semakin mudah untuk menikmati ayam pedas legendaris ini. (nad)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
belalang kayu 1
Read More

Berburu Belalang Kayu di Pinggiran Hutan

DENGAN membawa sebuah lampu senter dan botol bekas air mineral berukuran besar, Joko Slamet, 29 tahun, melangkah menyibak malam yang belum begitu pekat. Lelaki warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi ini akan mencari belalang di kebun-kebun di pinggiran hutan jati yang tidak jauh dari rumahnya.