Minggu, 14 Agustus 2022

Bertekad Tidak Merepotkan Orang Lain, Lasemi Terus Bekerja

: :

Marinir Lampon Ikuti Ujian Kenaikan Sabuk Karate

Dinas Pendidikan Korps Marinir (Dispen Kormar) melaksanakan ujian kenaikan tingkat atau sabuk karate di lapangan Markas Komando Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpurmar) 7 Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Minggu, 31 Juli 2022.

Masyarakat Pesanggaran Isi Bulan Suro dengan Doa dan Tirakat

BULAN Suro adalah bulan yang sangat lekat dan sakral bagi umat Islam dan masyarakat Jawa. Dalam penanggalan Islam (hijriah), bulan Suro disebut dengan Muharam.

Warga Pesisir Lampon Gelar Petik Laut Bersama Marinir

Warga pesisir Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir 7 Lampon melaksanakan kegiatan Petik Laut 1 Suro, Sabtu, 30 Juli 2022.

Tangan Lasemi dengan sigap meraih barang dagangan yang sudah terikat sedemikian rupa. Ibu itu memesan tempe kepadanya. Diserahkannya dua potong tempe terbungkus plastik kepada pelanggannya itu.

Punggung tangan warga Dusun Krajan RT03/RW04, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi ini sesekali menjangkau wajah tuanya, mengusap peluh yang membulir hendak jatuh. Hari sudah menjelang senja, sementara barang-barang dagangannya belum juga habis.

Saya menghampirinya ketika ia kembali menuju sepeda dan keranjang dagangannya. Senyum ramahnya mengembang saat menyambut jabat tangan saya. Kami bersalaman. Sementara ibu pembeli tadi telah menghilang di balik pintu rumahnya.

Sudah bertahun-tahun Lasemi bekerja sendiri memenuhi kebutuhan keluarganya. Suaminya, Boyadi, tidak mampu lagi bekerja. Usia tua memaksanya tinggal di rumah dan mendoakan istrinya yang menggantikan perannya sebagai pencari nafkah.

Pekerjaan Lasemi terbilang biasa saja. Bukan pekerjaan besar yang menghasilkan banyak rupiah. Namun, jelas membutuhkan banyak energi untuk melakukannya.

Setiap hari ia berkeliling kampung menjajakan barang dagangannya yang tidak seberapa, berupa sayur-sayuran, lauk, dan beberapa bumbu dapur. Dia membeli barang-barang jualannya itu di pasar sore Desa Siliragung, kira-kira dua kilometer dari tempat tinggalnya.

Bersepeda, Lasemi keliling kampung menjajakan dagangannya. Ditawarkannya dagangannya kepada ibu-ibu dari rumah ke rumah. Lelah tentu, tapi terus dia jalani rutinitas itu.

“Saya berangkat habis zuhur, keliling sampai menjelang magrib saya pulang,” kata Lasemi.

Meskipun hasilnya berjualan tidak seberapa, Lasemi pantang menyerah. Ia selalu mensyukuri usahanya dan menjalani rutinitasnya dengan penuh keikhlasan.

“Usaha tidak akan membohongi hasil,” selorohnya bijak.

Di tengah kesibukannya, Lasemi masih menyisakan waktu dan energi untuk mengurus rumah. Menyiapkan makanan, beres-beres, dan menyiapkan segala keperluan suaminya yang telah lanjut usia.

Putra tunggalnya, Murwoko, tinggal bersamanya. Ia sudah berkeluarga. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Murwoko membuka bengkel kecil di depan rumah. Namun, alih-alih mengandalkan penghasilan anaknya, Lasemi lebih memilih mencari penghasilan sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain meski darah dagingnya sendiri. Baginya, hasil kerja anak bukan haknya.

Lasemi menuturkan kisahnya itu dengan tenang. Tak tersirat penyesalan sedikit pun akan hidup yang dijalaninya. Sebab, baginya, hidup adalah tentang pengabdian dan keikhlasan.

“Yang penting ikhlas,” katanya, “selagi masih kuat berjalan dan mengayuh sepeda, saya juga tak akan berhenti berjualan sayur keliling,” sambungnya.

Banyak warga sekitar dan para pelanggannya yang mengenal baik Lasemi.

“Mbah Lasemi ini orangnya gigih, pekerja keras, pendiam, dan sabar,” ungkap Sugiyati, tetangga sekaligus pelanggan Lasemi mencoba menggambarkan sosok Srikandi ini.

Tak lama mengobrol, sembari beranjak, ia mempersilakan saya mampir ke rumahnya kapan sempat. Saya mengiyakan, sebelum kemudian ia menghilang di perempatan, pulang menuju keluarganya. Menjemput tugas-tugasnya di rumah.

Bagi saya, Lasemi adalah contoh ideal kegigihan, kesederhanaan, pengabdian, dan keikhlasan. Menjadi hebat karena nilai-nilai agung itu dimiliki seorang wanita biasa. Tanpa gelar. Tanpa jabatan. (tiw)

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Marinir Lampon Ikuti Ujian Kenaikan Sabuk Karate

Dinas Pendidikan Korps Marinir (Dispen Kormar) melaksanakan ujian kenaikan tingkat atau sabuk karate di lapangan Markas Komando Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpurmar) 7 Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Minggu, 31 Juli 2022.

Masyarakat Pesanggaran Isi Bulan Suro dengan Doa dan Tirakat

BULAN Suro adalah bulan yang sangat lekat dan sakral bagi umat Islam dan masyarakat Jawa. Dalam penanggalan Islam (hijriah), bulan Suro disebut dengan Muharam.

Warga Pesisir Lampon Gelar Petik Laut Bersama Marinir

Warga pesisir Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir 7 Lampon melaksanakan kegiatan Petik Laut 1 Suro, Sabtu, 30 Juli 2022.

Santri Minhajussalikin Gelar Pawai Obor Mengingat Perjalanan dan Perjuangan Nabi

Yayasan Pondok Pesantren Minhajussalikin Kaligonggo, Ringinmulyo, Pesanggaran, Banyuwangi, memperingati malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1444 Hijriah dengan menggelar pawai obor, Jumat, 29 Juli 2022.

Kirab Tumpeng Hasil Bumi, Cara PSHT Ranting Siliragung Peringati Tahun Baru Islam

Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Ranting Siliragung menggelar acara kirab dan tasyakuran peringatan malam Tahun Baru Islam (1 Muharam), Jumat, 29 Juli 2022. Masyarakat Jawa lebih mengenalnya dengan malam siji (satu) Suro. 

Baca Juga: