Kamis, 28 Mei 2020

Jaranan Smanggar, Bertahan Melestarikan Budaya Lokal

: :

BSI Serahkan 2.000 Paket Sembako untuk Warga Kurang Mampu

Jelang Idul Fitri tahun ini, PT Bumi Suksesindo (BSI) menyerahkan bantuan 2.000 paket sembako untuk warga kurang mampu di wilayah Kecamatan Pesanggaran dan Siliragung.

Peduli Covid-19, Pemuda Pancer Bagikan Ikan Gratis

Beberapa pemuda asal dari Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran terlihat sedang sibuk di perempatan Buk Putih, Siliragung, Banyuwangi, Kamis (14/5).

Kecamatan Pesanggaran Terima Bantuan Bibit Pohon dari BSI

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menerima bantuan sebanyak 200 bibit pohon siap tanam dari PT Bumi Suksesindo (BSI), Rabu (13/5).

“Jaranan itu hobi murahan, kesenian jadul,nggak keren, bukan buat anak muda.”

Frendi Eko Margono, 17 tahun, pernah beranggapan demikian. Saat masih SMP, ia kerap mencibir teman-temannya yang aktif berkesenian jaranan. Sampai suatu ketika, kala itu ia baru saja masuk SMAN 1 Pesanggaran (Smanggar), seorang guru memintanya ikut kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) karawitan, belajar menjadi penabuh bonang—instrumen melodi dalam gamelan. 

Sebagai siswa baru, Frendi merasa tak sopan jika menolak permintaan gurunya, hingga dengan agak terpaksa ia mengikutinya. Akan tetapi rupanya keterpaksaan itu hanya mula-mula saja. Sebab, begitu mulai bisa memainkan bonang, ia dapat hanyut menikmati musik dan permainannya, malah beranjak penasaran terhadap instrumen lainnya. Berkat bimbingan gurunya, selain terampil memainkan bonang, Frendi mulai menguasai saron, kluncing, kecrek, gong, dan sebagainya. 

Pada saat hampir bersamaan, Smanggar melengkapi ekskul karawitannya dengan kesenian jaranan. Alih-alih menolak, Frendi membeli sendiri kendang dan seruling lalu belajar memainkannya untuk mendukung penampilan jaranan.

“Saya menyesal dulu pernah meremehkan seni jaranan. Ternyata banyak hal menarik yang bisa saya pelajari,” kata Frendi. Kini ia duduk di kelas XI, dan merupakan salah satu anggota tim jaranan Smanggar. Kecintaannya terhadap seni jaranan sulit lagi diragukan.

Kesenian jaranan atau kuda lumping dikenal hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa. Namun belakangan ini agak langka keberadaannya, sebab memang semakin sedikit pelestarinya. Karena itulah para guru Smanggar berupaya mengembangkannya agar terus dicintai generasi muda.

Dimulai dari Ekskul Karawitan

Bisa jadi karena giatnya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mempromosikan budaya dan kesenian lokal, minat berkesenian para siswa Smanggar meningkat. Untuk mewadahi tingginya minat itu, Cipto Suyanto, guru kimia di Smanggar, mengusulkan pembentukan kegiatan ekstra kurikuler karawitan. Pencinta Budaya Jawa ini mengaku sudah lama mengidamkan adanya wadah berkesenian-lokal bagi para siswa di sekolah.

“Kebudayaan lokal perlu kita kembangkan agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai Bangsa Indonesia,” kata Cipto.

Berawal dari Ekskul Karawitan itu, bimbingan berkesenian-lokal bagi para siswa menjadi lebih terarah dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat dipupuk hingga terus bertambah. Selang sebentar, guna melengkapi tim karawitan, dibentuklah tim kesenian tari jaranan. Sejak itu, seni jaranan berkembang di Smanggar, dan mendorong terbentuknya kelompok-kelompok seni lain. Salah satunya adalah seni janger yang muncul belakangan atas inisiatif para siswa.

Awalnya, Cipto, yang sangat paham koreografi tari jaranan, melatih dan membimbing sendiri murid-muridnya yang mulanya hanya dari kalangan kecil pengurus OSIS. Ketika makin banyak siswa meminati jaranan, ia datangkan pelatih profesional dari luar sekolah. Kini, anak-anak didiknya dapat melatih sendiri teman-temannya yang baru bergabung dalam Ekskul Jaranan.

“Antusias siswa untuk menari jaranan sangat luar biasa. Ini merupakan energi positif yang dapat memberikan dampak baik bagi mereka maupun bagi sekolah,” jelas Cipto.

Jaranan Smanggar pertama kali tampil pada event dies natalis sekolah. Kala itu tim jaranan putra dan putri berkolaborasi dan sukses memesona para penonton. Sejak itu, Jaranan Smanggar mulai diminta tampil pada acara-acara di luar sekolah. Undangan demi undangan dihadiri tim kesenian yang beranggotakan anak-anak Smanggar ini, mulai hajatan pernikahan, khitanan, sampai acara resmi gelaran pemerintah. Pada Banyuwangi Culture Everyday Night, misalnya, Jaranan Smanggar tampil memukau, lengkap dengan musik karawitannya.

Menyerah atau Bertahan?

Frendi adalah satu di antara banyak seniman-muda jaranan yang sampai hari ini masih mau berbangga dijuluki “seniman jaranan”. Kebanggaan itu layak disandang sebab sebanding dengan kerasnya upaya para seniman dalam berjuang melestarikan budaya lokal. Salah satu tantangannya adalah pandangan masyarakat terhadap jaranan yang umumnya menganggap biasa saja dan bahkan tak ada istimewanya. Citra itu tecermin pada nilai ekonomi seni jaranan yang rendah: upah penampil jaranan tak sepadan dengan kesulitan mempersiapkan pertunjukan—belum lagi membahas upaya mempertahankan kelestarian budaya lokal ini.

Sekali tampil, Fren-di sering hanya dibayar Rp50.000 sampai Rp150.000 saja. Ia ke-rap merugi karena upahnya tak jarang habis untuk biaya ope-rasional dan konsumsi. Kenapa ia masih bertahan?

“Saya menari jaranan karena hobi. Jadi, saat tidak mendapat bayaran, setidaknya saya senang karena sudah bisa menyalurkan hobi saya,” ungkapnya.

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

BSI Serahkan 2.000 Paket Sembako untuk Warga Kurang Mampu

Jelang Idul Fitri tahun ini, PT Bumi Suksesindo (BSI) menyerahkan bantuan 2.000 paket sembako untuk warga kurang mampu di wilayah Kecamatan Pesanggaran dan Siliragung.

Peduli Covid-19, Pemuda Pancer Bagikan Ikan Gratis

Beberapa pemuda asal dari Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran terlihat sedang sibuk di perempatan Buk Putih, Siliragung, Banyuwangi, Kamis (14/5).

Kecamatan Pesanggaran Terima Bantuan Bibit Pohon dari BSI

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menerima bantuan sebanyak 200 bibit pohon siap tanam dari PT Bumi Suksesindo (BSI), Rabu (13/5).

Bahaya Limbah Merkuri di Depan Mata

Merkuri atau air raksa sangat disukai penambang tradisional karena bisa menangkap serbuk emas dalam lumpur atau tanah yang mereka olah. Artinya, dengan upaya yang relatif mudah, uang besar bakal berada dalam genggaman.

Iles-iles Bikin Nyes

Mayoritas warga Desa Kandangan di wilayah barat Kecamatan Pesanggaran bekerja sebagai petani dan penggarap kebun. Hal ini tercermin antara lain dari suasana desa yang asri.

Baca Juga: