Minggu, 27 September 2020

Jaranan Smanggar, Bertahan Melestarikan Budaya Lokal

: :

Lomba Melukis Tempat Sampah di SD/MI Pesanggaran

MUFIDATUL HASANAH, guru SDN 9 Sumberagung, sedang bersama dua orang siswanya; ketiganya mengitari sebuah tong sampah dan memegang kuas masing-masing. Cat warna-warni ada di sekitar mereka.

Melihat Produksi Sepatu SMK Darul Falah Kandangan

BEBERAPA lembar kulit berwarna hitam dan coklat tergelar di atas lantai di salah satu ruangan di SMK Darul Falah (Dafa) Kandangan, Pesanggaran. Seorang siswa terlihat sibuk memotong kulit tersebut mengikuti pola-pola tertentu. Seorang guru mengawasinya.

Desa Sumberagung Tetapkan Penerima Program Kanggo Riko

Pemerintah Desa Sumberagung, menetapkan penerima bantuan program Kanggo Riko melalui Musyawarah Desa (Musdes) pada Kamis, 24 September 2020. Kepala Desa Vivin Agustin tidak tampak menghadiri rapat hari itu.

“Jaranan itu hobi murahan, kesenian jadul,nggak keren, bukan buat anak muda.”

Frendi Eko Margono, 17 tahun, pernah beranggapan demikian. Saat masih SMP, ia kerap mencibir teman-temannya yang aktif berkesenian jaranan. Sampai suatu ketika, kala itu ia baru saja masuk SMAN 1 Pesanggaran (Smanggar), seorang guru memintanya ikut kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) karawitan, belajar menjadi penabuh bonang—instrumen melodi dalam gamelan. 

Sebagai siswa baru, Frendi merasa tak sopan jika menolak permintaan gurunya, hingga dengan agak terpaksa ia mengikutinya. Akan tetapi rupanya keterpaksaan itu hanya mula-mula saja. Sebab, begitu mulai bisa memainkan bonang, ia dapat hanyut menikmati musik dan permainannya, malah beranjak penasaran terhadap instrumen lainnya. Berkat bimbingan gurunya, selain terampil memainkan bonang, Frendi mulai menguasai saron, kluncing, kecrek, gong, dan sebagainya. 

Pada saat hampir bersamaan, Smanggar melengkapi ekskul karawitannya dengan kesenian jaranan. Alih-alih menolak, Frendi membeli sendiri kendang dan seruling lalu belajar memainkannya untuk mendukung penampilan jaranan.

“Saya menyesal dulu pernah meremehkan seni jaranan. Ternyata banyak hal menarik yang bisa saya pelajari,” kata Frendi. Kini ia duduk di kelas XI, dan merupakan salah satu anggota tim jaranan Smanggar. Kecintaannya terhadap seni jaranan sulit lagi diragukan.

Kesenian jaranan atau kuda lumping dikenal hampir di seluruh wilayah Pulau Jawa. Namun belakangan ini agak langka keberadaannya, sebab memang semakin sedikit pelestarinya. Karena itulah para guru Smanggar berupaya mengembangkannya agar terus dicintai generasi muda.

Dimulai dari Ekskul Karawitan

Bisa jadi karena giatnya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mempromosikan budaya dan kesenian lokal, minat berkesenian para siswa Smanggar meningkat. Untuk mewadahi tingginya minat itu, Cipto Suyanto, guru kimia di Smanggar, mengusulkan pembentukan kegiatan ekstra kurikuler karawitan. Pencinta Budaya Jawa ini mengaku sudah lama mengidamkan adanya wadah berkesenian-lokal bagi para siswa di sekolah.

“Kebudayaan lokal perlu kita kembangkan agar kita tidak kehilangan jati diri sebagai Bangsa Indonesia,” kata Cipto.

Berawal dari Ekskul Karawitan itu, bimbingan berkesenian-lokal bagi para siswa menjadi lebih terarah dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat dipupuk hingga terus bertambah. Selang sebentar, guna melengkapi tim karawitan, dibentuklah tim kesenian tari jaranan. Sejak itu, seni jaranan berkembang di Smanggar, dan mendorong terbentuknya kelompok-kelompok seni lain. Salah satunya adalah seni janger yang muncul belakangan atas inisiatif para siswa.

Awalnya, Cipto, yang sangat paham koreografi tari jaranan, melatih dan membimbing sendiri murid-muridnya yang mulanya hanya dari kalangan kecil pengurus OSIS. Ketika makin banyak siswa meminati jaranan, ia datangkan pelatih profesional dari luar sekolah. Kini, anak-anak didiknya dapat melatih sendiri teman-temannya yang baru bergabung dalam Ekskul Jaranan.

“Antusias siswa untuk menari jaranan sangat luar biasa. Ini merupakan energi positif yang dapat memberikan dampak baik bagi mereka maupun bagi sekolah,” jelas Cipto.

Jaranan Smanggar pertama kali tampil pada event dies natalis sekolah. Kala itu tim jaranan putra dan putri berkolaborasi dan sukses memesona para penonton. Sejak itu, Jaranan Smanggar mulai diminta tampil pada acara-acara di luar sekolah. Undangan demi undangan dihadiri tim kesenian yang beranggotakan anak-anak Smanggar ini, mulai hajatan pernikahan, khitanan, sampai acara resmi gelaran pemerintah. Pada Banyuwangi Culture Everyday Night, misalnya, Jaranan Smanggar tampil memukau, lengkap dengan musik karawitannya.

Menyerah atau Bertahan?

Frendi adalah satu di antara banyak seniman-muda jaranan yang sampai hari ini masih mau berbangga dijuluki “seniman jaranan”. Kebanggaan itu layak disandang sebab sebanding dengan kerasnya upaya para seniman dalam berjuang melestarikan budaya lokal. Salah satu tantangannya adalah pandangan masyarakat terhadap jaranan yang umumnya menganggap biasa saja dan bahkan tak ada istimewanya. Citra itu tecermin pada nilai ekonomi seni jaranan yang rendah: upah penampil jaranan tak sepadan dengan kesulitan mempersiapkan pertunjukan—belum lagi membahas upaya mempertahankan kelestarian budaya lokal ini.

Sekali tampil, Fren-di sering hanya dibayar Rp50.000 sampai Rp150.000 saja. Ia ke-rap merugi karena upahnya tak jarang habis untuk biaya ope-rasional dan konsumsi. Kenapa ia masih bertahan?

“Saya menari jaranan karena hobi. Jadi, saat tidak mendapat bayaran, setidaknya saya senang karena sudah bisa menyalurkan hobi saya,” ungkapnya.

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Lomba Melukis Tempat Sampah di SD/MI Pesanggaran

MUFIDATUL HASANAH, guru SDN 9 Sumberagung, sedang bersama dua orang siswanya; ketiganya mengitari sebuah tong sampah dan memegang kuas masing-masing. Cat warna-warni ada di sekitar mereka.

Melihat Produksi Sepatu SMK Darul Falah Kandangan

BEBERAPA lembar kulit berwarna hitam dan coklat tergelar di atas lantai di salah satu ruangan di SMK Darul Falah (Dafa) Kandangan, Pesanggaran. Seorang siswa terlihat sibuk memotong kulit tersebut mengikuti pola-pola tertentu. Seorang guru mengawasinya.

Desa Sumberagung Tetapkan Penerima Program Kanggo Riko

Pemerintah Desa Sumberagung, menetapkan penerima bantuan program Kanggo Riko melalui Musyawarah Desa (Musdes) pada Kamis, 24 September 2020. Kepala Desa Vivin Agustin tidak tampak menghadiri rapat hari itu.

Jalan Pelik Pembalap Cilik

TUBUHNYA tidak terlalu gemuk, bahkan cenderung kurus, dengan kulit agak hitam. Usianya baru menginjak 10 tahun dengan tinggi badan sekitar 150 meter. Apabila sedang di rumah, seperti umumnya anak-anak seusianya, dia juga bermain layang-layang, game di telepon pintar, atau sekadar bersepeda bersama teman-temannya.

Pertemuan Rutin Perangkat Desa Sumberagung

Perangkat Desa Sumberagung dan anggota Lembaga Kemasyarakatan Desa di Dusun Silirbaru mengadakan pertemuan rutin, Rabu, 23 September 2020. Agar para peserta bersemangat menghadirinya, mereka mengisinya dengan arisan dan diskusi.

Baca Juga: