Jumat, 28 Februari 2020

Nata Buah Naga: Menambah Nilai Jual Buah Naga

: :

Pemuda Pancer Bersih-bersih Lingkungan

Puluhan pemuda Pancer, Sumberagung, Pesanggaran melakukan kerja bakti bersih-bersih rumput di lapangan Pancer, Sabtu (8/2).

Pelatihan Tanggap Bencana di Kandangan

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Pesanggaran menggelar pelatihan kesiapsiagaan tanggap bencana untuk warga Desa Kandangan, Kamis (6/2).

BSI Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang Bondowoso

Bantuan untuk korban banjir bandang di Desa Sempol, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso terus berdatangan dari berbagai instansi (pemerintah maupun swasta) dan kelompok masyarakat.

Prihatin harga buah naga turun drastis tiap panen raya, bahkan banyak yang tidak laku dan dibiarkan busuk, Atika Dewi Evitasari menyulapnya menjadi Nata Buah Naga: kudapan mirip jeli bening bertekstur kenyal dari buah naga.

Nata adalah makanan yang terlihat seperti jeli, berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Makanan ini biasanya dihidangkan sebagai makanan penutup.

Selama ini kita tahu bahwa nata dapat dibuat dari hasil fermentasi air kelapa. Orang-orang menamainya nata de coco (coco: kelapa).

Baru-baru ini, seorang gadis asal Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi, berhasil membuat terobosan dengan mengolah buah naga menjadi nata. Dara bernama Atika Dewi Evitasari—sehari-hari ia disapa Vita—ini mempelajari mikrobiologi saat menempuh pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Negeri Malang. Semasa kuliahnya, Vita belajar membuat nata berbahan buah kelapa atau nata de coco.

“Bekerja di laboratorium sudah menjadi rutinitas selama kuliah,” kenang Vita.

Usai menyelesaikan pendidikan, Vita memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Sumberagung. Saat itulah kerap disaksikannya ironi, ketika para petani terpaksa membuang hasil panen buah naga mereka sebab harganya terlalu murah. Dia tidak dapat membayangkan kerugian yang harus ditanggung para petani.

Berbekal kemampuan yang diperolehnya saat kuliah, putri pasangan Abdul Kholik dan Sutiasih ini bertekad mengembangkan nata berbahan buah naga di lingkungannya.

Dulu, semasa kuliah, Vita juga pernah mencoba membuat nata berbahan buah apel, semangka, dan buah naga. Dari ketiganya, buah naga menghasilkan lapisan nata yang paling baik—dari segi tekstur, warna, hingga rasanya, bisa menyamai nata de coco.

“Itu karena kandungan gula atau glukosa dalam buah naga cukup tinggi,” terang Vita.

Akan tetapi, percobaan membuat nata buah naga di rumah ternyata tak mudah.

“Awalnya saya sempat bingung bagaimana memulainya. Terbiasa kerja di laboratorium dengan lingkungan yang steril, kini saya mengerjakan di rumah dengan alat seadanya,” kenang Vita.

Kendala lainnya adalah bibit bakteri Acetobacter xylinum, bahan penting pembuat nata, sulit didapatkan di Banyuwangi. Tak kurang akal, ia meminta bantuan teman kuliahnya untuk membelikan bibit bakteri itu, lalu diperbanyaknya sendiri di rumah dengan air kelapa dan bahan lainnya.

Pertama melakukan percobaan, hasil yang didapatkannya cukup baik, lapisan terbentuk dengan bagus, tekstur dan rasa sudah layak konsumsi. Namun, terjadi kontaminasi jamur yang membuat produksinya tidak maksimal.

“Itu karena kurang steril membersihkan alat-alat,” kata Vita.

Kini, setelah beberapa kali berhasil memproduksi nata berbahan buah naga untuk konsumsi sendiri, ia berniat membagi pengetahuannya ke para tetangga yang membutuhkannya.

“Saya ingin mengajak warga atau lingkungan masyarakat sekitar untuk bisa membuat nata, sehingga dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak dan bisa dipasarkan,” ujar Vita.

Berminat mencoba membuat nata buah naga? Hubungi Vita (085334191275) atau tunggu Pelatihan Gratis Membuat Nata de Naga pada Mei 2019.

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Pemuda Pancer Bersih-bersih Lingkungan

Puluhan pemuda Pancer, Sumberagung, Pesanggaran melakukan kerja bakti bersih-bersih rumput di lapangan Pancer, Sabtu (8/2).

Pelatihan Tanggap Bencana di Kandangan

Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Pesanggaran menggelar pelatihan kesiapsiagaan tanggap bencana untuk warga Desa Kandangan, Kamis (6/2).

BSI Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang Bondowoso

Bantuan untuk korban banjir bandang di Desa Sempol, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso terus berdatangan dari berbagai instansi (pemerintah maupun swasta) dan kelompok masyarakat.

Program Perbaikan untuk Jalan Desa

Beberapa ruas jalan desa/kampung di wilayah Pesanggaran kini nampak berbeda dari tahun sebelumnya. Jalan-jalan tersebut kini terlihat lebih rapi dan nyaman dilalui.

Era Edmodo Telah Datang di Kandangan

Majunya teknologi sekarang ini membuat masyarakat memasuki era digital. Sejumlah pekerjaan yang dulunya harus dikerjakan secara manual, sekarang bisa dikerjakan melalui media digital, termasuk dalam lingkup pendidikan.

Baca Juga: