Sabtu, 14 Desember 2019

Musala Abah Tanggung: Terbuat dari Sampah, Menebar Banyak Faedah

: :

Simulasi Sadar Bencana di SDN Sumberagung

Simulasi sadar bencana digelar di SDN 4 dan SDN 8 Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran hari ini, Sabtu (16/11).

Setelah Empat Tahun, SLB Lentera Hati Kini Miliki Gedung Baru

Tasyakuran untuk menempati gedung baru Sekolah Luar Biasa (SLB) Lentera Hati di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi dilaksanakan sore ini, Jumat (8/11).

Program JKN-KIS untuk Warga Prasejahtera di Pesanggaran

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menyerahkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk warga prasejahtera di wilayah Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Dindingnya terbuat dari sampah kayu, pagarnya dari bebatuan pantai, tempat wudhunya berupa gentong tembikar. Itulah Musala Al-Hikmah di tepi pantai Pulau Merah yang dibangun dan dikelola oleh Abah Tanggung, pemuka agama setempat.

Sebelum mendirikan musala berstruktur bangunan tak biasa itu, pria bernama asli Tanggung Ahmad Fauzy ini juga pernah membuat yang serupa pada 2013 lalu. Musala yang dibangun bersama para nelayan lokal itu banyak menarik perhatian wisatawan. Tiap hari libur, musala selalu penuh. Karenanya ia memutuskan untuk membangun musala baru di samping yang lama.

Abah Tanggung mulai membangunnya pada Agustus 2018. Ukurannya lebih besar dari musala sebelumnya, agar nantinya dapat digunakan khusus untuk jemaah laki-laki, sementara musala lama untuk jemaah perempuan.

Struktur bagian depan dibuat mirip Ka’bah, berbentuk kubus dengan pintu utama di depan. Sedang bagian belakangnya, strukturnya lebih mirip kelenteng, tempat ibadah umat Konghucu. Pada dinding-dinding atapnya ditulis pesanpesan damai dengan huruf menyerupai Aksara Jawa.

Bukan tanpa alasan Abah memilih model bangunan demikian. Arsitektur mirip kelenteng dipilih agar masyarakat sekitar meng-hargai keberagaman. Patung perahu yang berada di puncak bangunan adalah lambang ketakwaan yang merupakan bekal manusia mengarungi kehidupan. “Sanggar Pamujan ing Gusti Hang Moho Agung” yang dituliskan mirip Aksara Jawa bertujuan memberi kesan agar musala sebagai tempat ibadah tak lagi menampilkan fanatisme.

“Islam itu adalah agama rahmatan lil alamiin (rahmat bagi seluruh alam). Jadi harusnya menjangkau semua kalangan. Memberikan kedamaian bagi seluruh umat manusia,” ungkap Abah menjelaskan makna struktur bangunan musalanya.

Mengenai konsep dan proses pembangunannya, Abah mengaku mengerjakannya sendiri. Sesekali ia mempekerjakan warga sekitar untuk pemasangan struktur bangunan yang agak sulit. Maklum, Abah mengalami keterbatasan, kakinya sulit digunakan untuk berjalan. 

Urusan sumber dana, ia mengaku mendapatkannya dari berbagai donatur. Dulu, ketika musala pertamanya berhasil menarik perhatian wisatawan, pernah beberapa kali stasiun televisi menayangkan berita seputar musalanya. Sejak saat itu mulai banyak donasi yang masuk. Mulai dari masyarakat, pengusaha, perusahaan-perusahaan, juga artis ibu kota. Bahkan gara-gara musala pertamanya Abah pernah diumrahkan oleh Kapolda Jawa Timur kala itu.

“Saya senang seluruh kalangan bisa bersatu dalam kebaikan,” katanya sembari mengucap syukur atas berbagai donasi yang masuk.

Selain donasi, Abah juga mengandalkan pemasukan dari jasa toilet umum yang ia bangun di samping musalanya. Tak ada pungutan wajib bagi para pengguna toilet. Malah ia menyediakan stok sabun dan sampo yang bisa dibayar sesuka hati. Abah menyebutnya “toko kejujuran”, meski belum tampak seperti toko pada umumnya.

“Harapan saya nantinya bisa membangun toko beneran di sini, Mas,” ujarnya sambil menunjuk lokasi di samping toiletnya, “nanti bayarnya bebas, tergantung kejujuran si pembeli. Pengennya nanti ada produk-produk makanan di sini,” sambungnya memaparkan impiannya terkait toko kejujuran.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, musala Abah biasanya juga digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir. Para pelancong yang pergi memancing di Pulau Merah, sering memanfaatkan Musala Al Hikmah sebagai tempat istirahat pada malam hari. Pedagang-pedagang yang berada di sekitarnya juga kerap memanfaatkan fasilitas listrik dan air dari musala. Meski demikian, Abah tak pernah meminta mereka membayar fasilitas-fasilitas yang telah digunakan. Semuanya atas dasar sukarela.

“Kalau mau bayar ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak apa-apa. Rezeki itu tak akan habis kalau kita mau bersedekah,” kata Abah menegaskan prinsipnya.

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Simulasi Sadar Bencana di SDN Sumberagung

Simulasi sadar bencana digelar di SDN 4 dan SDN 8 Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran hari ini, Sabtu (16/11).

Setelah Empat Tahun, SLB Lentera Hati Kini Miliki Gedung Baru

Tasyakuran untuk menempati gedung baru Sekolah Luar Biasa (SLB) Lentera Hati di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi dilaksanakan sore ini, Jumat (8/11).

Program JKN-KIS untuk Warga Prasejahtera di Pesanggaran

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menyerahkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk warga prasejahtera di wilayah Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Puskesmas Sumberagung Canangkan Program Pemberantasan TBC

Puskesmas Sumberagung gencar mengampanyekan program pemberantasan penyakit TBC (Tuberkulosis) di wilayah kerjanya.

“Nguri-nguri” Budaya Melalui Wayang Kulit dan Kesenian Daerah

Siapa yang mengira jika pada zaman milenial yang semakin modern ini masih ada segelintir remaja yang peduli akan budaya tradisional?

Baca Juga: