Rabu, 20 November 2019

“Nguri-nguri” Budaya Melalui Wayang Kulit dan Kesenian Daerah

: :

Simulasi Sadar Bencana di SDN Sumberagung

Simulasi sadar bencana digelar di SDN 4 dan SDN 8 Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran hari ini, Sabtu (16/11).

Setelah Empat Tahun, SLB Lentera Hati Kini Miliki Gedung Baru

Tasyakuran untuk menempati gedung baru Sekolah Luar Biasa (SLB) Lentera Hati di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi dilaksanakan sore ini, Jumat (8/11).

Program JKN-KIS untuk Warga Prasejahtera di Pesanggaran

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menyerahkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk warga prasejahtera di wilayah Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Pesanggaran – Siapa yang mengira jika pada era milenial yang semakin modern ini masih ada segelintir remaja yang peduli akan budaya tradisional seperti wayang kulit? Bahkan sangat jarang sekali ditemui. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

Sebagai salah seorang yang dituakan dalam dunia seni tradisional, Kasiman yang juga berprofesi sebagai guru SMK PGRI Pesanggaran ini bekerja keras demi mempertahankan kesenian daerah, terutama wayang kulit dan campur sari. Kasiman berusaha menyalakan popularitas kesenian wayang kulit ini pada masyarakat yang kian waktu kian lupa akan budayanya.

Sebagai pembina ekstrakurikuler di SMK PGRI Pesanggaran, Kasiman memulai dengan hal kecil, yakni membina anak didiknya sedari dini dengan harapan cikal bakal penerus bangsa ini tidak lupa dan tidak meninggalkan budaya yang sejak dulu telah menjadi ikon bangsa Indonesia.

Kecintaan Kasiman terhadap kesenian daerah berawal dari didikan guru semasa sekolah dasarnya dulu, Abu Sofyan. “Dulu saya gak bisa sama sekali di bidang ini. Karena saya gak bisa nyanyi, sama Pak Abu Sofyan guru SD saya dulu, saya diludahi. Saya kapok. Pada akhirnya saya jadi bisa menyanyikan semua tembang Jawa,” terang Kasiman.

Abu Sofyan yang merupakan guru di SDN 1 Siliragung itu nampaknya telah berhasil mengubah Kasiman menjadi seorang yang ahli di bidang kesenian daerah.

Kasiman

Ngudi Laras Semakin Bersorak

Didorong oleh kecintaan kepada kesenian daerah, Kasiman bertekad mendirikan sebuah sanggar seni bernama “Ngudi Laras” pada tahun 2004. Menurut Kasiman, Ngudi Laras memiliki makna mencari ketenangan hidup.

Meskipun sanggarnya sudah berdiri, namun Kasiman belum memiliki gamelan yang lengkap. Namun, lelaki paruh baya ini tidak menyerah. Dia tetap melanjutkan perjuangannya walaupun harus meminjam gamelan untuk bisa berlatih.  

Sampai suatu ketika Bupati Banyuwangi waktu itu, Ratna Ani Lestari, sedang berkunjung di Desa Pesanggaran. Hidangan untuk para pejabat kabupaten bertempat di SMK PGRI Pesanggaran, tempat Kasiman mengajar. Di sini, Bupati Ratna disuguhi musik campur sari dengan pemain asli murid SMK PGRI Pesanggaran –binaan Kasiman.

Tak disangka, Bupati Ratna menyukainya. OSIS SMK PGRI Pesanggaran berinisiatif membuat surat permohonan bantuan alat musik dan mengirimkannya kepada bupati. Gayung pun bersambut. Bupati Banyuwangi menyetujui permohonan tersebut.

Selain mendapat bantuan dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kesenian wayang kulit SMK PGRI Pesanggaran juga mendapat sumbangan dari orang Singapura yang sangat mengagumi wayang kulit milik SMK PGRI Pesanggaran.

Kini, Ngudi Laras beranggotakan 20 orang yang terbagi menjadi dua grup terpisah. Ngudi Laras tidak hanya beranggotakan siswa-siswi SMK PGRI Pesanggaran saja, namun juga anak-anak lain yang termasuk dalam kategori usia dini, seperti SD dan SMP.

“Sebetulnya minat anak-anak untuk bermain wayang kulit lumayan banyak. Hanya saja saya tidak mungkin merekrut semuanya karena gamelannya hanya cukup untuk dua grup saja,” terang Kasiman.

Kasiman melanjutkan bahwa pembinaan ini juga berlaku untuk anak-anak tingkat sekolah dasar. Mereka dilatih dan diasah kemampuannya agar menjadi penabuh gamelan dan pemain wayang kulit cilik yang mahir. Dengan harapan agar generasi milenial masa kini masih ada yang mau meneruskan warisan bangsa.

Berkat usahanya yang konsisten, Kasiman bisa berbangga karena salah satu anak didiknya kini go international. Agis remaja asal Silirbaru, Sumberagung, Pesanggaran yang juga alumni SMK PGRI Pesanggaran tersebut kini telah mencapai level internasional sebagai seorang pesinden.  

Tak hanya Agis, ada juga Pina siswi kelas 2 SMPN 2 Pesanggaran, Septi siswi kelas 2 SMK PGRI Pesanggaran dan Adel siswi kelas 1 MTs Negeri 9 Banyuwangi yang kini kian mahir mendalami perannya sebagai sinden bersuara emas. Mereka semua adalah anak-anak Ngudi Laras binaan Kasiman.

Selain prestasi individu, secara kelompok Ngudi Laras juga mendapat tempat di hati masyarakat. “Selama ini respon masyarakat terhadap Ngudi Laras sangat positif. Bahkan, anak-anak sering diundang di acara hajatan warga untuk bermain wayang kulit,” ungkap Kasiman.

Di akhir percakapan, Kasiman berpesan kepada Sedulur dan generasi muda untuk tidak melupakan warisan budaya leluhur.

“Kembalilah ke budaya bangsa agar warisan Indonesia sejak dulu tidak terlupakan. Apalagi kita orang Jawa yang sangat identik dengan kebudayaannya. Dan jangan sampai generasi milenial sekarang terlena dengan budaya modern yang kian tak bermoral, karena pemuda baik adalah aset bangsa kita,” katanya. (tiw)

TANGGAPI?

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

Simulasi Sadar Bencana di SDN Sumberagung

Simulasi sadar bencana digelar di SDN 4 dan SDN 8 Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran hari ini, Sabtu (16/11).

Setelah Empat Tahun, SLB Lentera Hati Kini Miliki Gedung Baru

Tasyakuran untuk menempati gedung baru Sekolah Luar Biasa (SLB) Lentera Hati di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi dilaksanakan sore ini, Jumat (8/11).

Program JKN-KIS untuk Warga Prasejahtera di Pesanggaran

Pemerintah Kecamatan Pesanggaran menyerahkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk warga prasejahtera di wilayah Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi

Puskesmas Sumberagung Canangkan Program Pemberantasan TBC

Puskesmas Sumberagung gencar mengampanyekan program pemberantasan penyakit TBC (Tuberkulosis) di wilayah kerjanya.

“Nguri-nguri” Budaya Melalui Wayang Kulit dan Kesenian Daerah

Siapa yang mengira jika pada zaman milenial yang semakin modern ini masih ada segelintir remaja yang peduli akan budaya tradisional?

Baca Juga: